Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Misteri Tongkat Komando Bung Karno

Berkali-kali Bung Karno berkata bahwa Tongkat Komando-nya tidak memiliki daya sakti, daya linuwih.."itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai Pemimpin dari sebuah negara besar" kata Bung Karno pada penulis Biografi-nya, Cindy Adams pada suatu saat di Istana Bogor.
Tongkat Komando Bung Karno diatas Meja Ike Eisenhower
Bung Karno sendiri memiliki tiga tongkat komando yang bentuknya sama, satu tongkat yang ia bawa ke luar negeri, satu tongkat untuk berhadapan dengan para Jenderalnya dan satu tongkat waktu ia berpidato. Namun kalau keadaan buru-buru dan harus pergi, yang kerap ia bawa adalah tongkat sewaktu ia berpidato.
Pernah suatu saat Presiden Kuba, Fidel Castro memegang tongkat Bung Karno dan bercanda "Apakah tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian?" Bung Karno tertawa saja, saat itu Castro meminta peci hitam Bung Karno dan Bung Karno pake pet hijau punya-nya Castro. "Pet ini saya pakai waktu saya serang Havana dan saya jatuhkan Batista" kata Castro mengenai Pet hijaunya itu.
Misteri Tongkat Komando Bung Karno
Apakah tongkat Bung Karno itu memiliki kesaktian? seperti Keris Diponegoro 'Kyai Salak' atau keris Aryo Penangsang 'Kyai Setan Kober' wallahu'alam . Tapi Bung Karno sakti, itu sudah jelas. Peristiwa paling menggemparkan bagi publik Indonesia adalah saat Bung Karno ditembak dari jarak dekat pada sholat Idul Adha. Tembakan itu meleset dan ini yang jadi heboh, bagaimana bisa penembaknya adalah seorang jago perang terlatih, kenapa menembak dari hanya jarak 5 meter tidak kena. Di Radio-radio saat itu saat sidang pengadilan penembak Bung Karno, terungkap saat Bung Karno membelah dirinya menjadi lima. Penembak bingung 'mana Bung Karno' ?
Kesaktian Bung Karno sebenarnya adalah 'kesaktian' tiban, 'tiban' adalah suatu istilah Jawa bahwa kesaktian itu tidak dipelajari. Waktu lahir Sukarno bernama Kusno, ia sakit keras kemudian diganti nama Sukarno. Setelah sehat, datanglah kakek Sukarno, Hardjodikromo datang dari Tulungagung untuk berjumpa dengan Sukarno kecil saat itu, sang Kakek melihat ada sesuatu yang lain di anak ini. Kakek Sukarno sendiri adalah seorang sakti, ia bisa menjilati bara api pada sebuah besi yang menyala. - Rupanya di lidah Sukarno ada kemampuan lebih yaitu mengobati orang, Sukarno dicoba untuk mengobati bagian yang sakit dengan menjilat-.
Kakek Sukarno, tau bahwa ini kesaktian, tapi harus diubah asal cucunya jangan hanya jadi dukun, tapi jadi seorang yang amat berguna untuk bangsanya. Hardjodikromo adalah seorang pelarian dari Jawa Tengah yang menolak sistem tanam paksa Cultuurstelsel Van Den Bosch, ia ke Tulungagung dan memulai usaha sebagai saudagar batik. Leluhur Bung Karno dari pihak Bapaknya adalah Perwira Perang Diponegoro untuk wilayah Solo. Nama leluhur Bung Karno itu Raden Mangundiwiryo yang berperang melawan Belanda, Mangundiwiryo ini adalah orang kepercayaan Raden Mas Prawirodigdoyo salah seorang Panglima Diponegoro yang membangun benteng-benteng perlawanan antara Boyolali sampai Merbabu. Setelah selesainya Perang Diponegoro, Raden Mangundiwiryo diburu oleh intel Belanda dan ia menyamar jadi rakyat biasa di sekitar Purwodadi, mungkin akar inilah yang membuat ikatan batin antara Jawa Tengah dan Bung Karno. - Seperti diketahui Jawa Tengah adalah basis utama Sukarnois terbesar di Indonesia-.
Mangundiwiryo memiliki kesaktian yaitu 'Ucapannya bisa jadi kenyataan' istilahnya 'idu geni'. Rupanya ini menurun pada Bung Karno. Melihat kemampuan 'idu geni' Bung Karno itu, Kakeknya Hardjodikromo berpuasa siang malam agar cucunya bisa memiliki kekuatan batin, pada suatu saat Hardjodikromo bermimpi rumahnya kedatangan seorang yang amat misterius, berpakaian bangsawan Keraton Mataram dan mengatakan dengan amat pelan 'bahwa cucumu adalah seorang Raja bukan saja di Tanah Jawa, tapi di seluruh Nusantara'. Kelak Hardjodikromo mengira bahwa itu adalah perwujudan dari Ki Juru Martani, seorang bangsawan Mataram paling cerdas.
Sejak mimpi itu, kemampuan Bung Karno menjilat dan menyembuhkan langsung hilang berganti dengan 'kemampuan berbicara yang luar biasa hebat'.
Bung Karno sendiri -menurut buku Giebbels, salah seorang Sejarawan Belanda- sudah diramalkan akan terbunuh dengan benda-benda tajam. Untuk itulah ia amat takut dengan jarum suntik, Bung Karno sendiri agak paranoid terhadap benda-benda tajam, ketika penyakit ginjalnya amat parah, ia menolak untuk berobat ke Swiss karena disana ia pasti akan dibedah dengan pisau tajam. Ia memilih obat-obatan herbal dari Cina.
Kembali ke tongkat tadi, tongkat Bung Karno itu dibuat dari bahan kayu Pucang Kalak, Pohon Pucang itu banyak, tapi Pucang Kalak itu hanya ada di Ponorogo, pohon Pucang. Tongkat Komando Bung Karno sendiri dipakai sejak 1952, setelah peristiwa 17 Oktober 1952. -Suatu malam Bung Karno didatangi orang dengan membawa sebalok kayu Pohon Pucang Kalak yang ia potong dengan tangannya, balok itu diserahkan pada Bung Karno. "Untuk menghadapi Para Jenderal" kata orang itu. Lalu Bung Karno menyuruh salah seorang seniman Yogyakarta untuk membuat kayu itu menjadi tongkat komando.
Sebagai tambahan dalam khasanah politik Indonesia, 'ageman' atau pegangan itu soal biasa. Misalnya Jenderal Sumitro, tokoh utama dalam rivaalitas dengan Ali Moertopo pada peristiwa Malari 1974, sebelum meletusnya Malari kedatangan seorang anak muda dengan pakaian dekil dan menyerahkan sebilah keris "Untuk menang Pak" kata anak muda itu.
Pak Harto sendiri punya ageman banyak yang bilang pusat kekuatan Pak Harto itu ada di Bu Tien Suharto, banyak yang bilang juga di 'konde' bu Tien. Tapi yang jelas Pak Harto adalah seorang pertapa, seorang ahli kebatinan tinggi, ia senang tapa kungkum di tempuran (tempuran = pertemuan dua arus kali) di Jakarta ia sering sekali bertapa di dekat Ancol tengah malam, saat tarik ulur dengan Bung Karno antara tahun 1965-1967

Minggu, 06 September 2009

Sepotong Kisah lain Tentang Soekarno


Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa-dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.

Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

“Pak, Pak, ini Ega…”

Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

“Hatta.., kau di sini..?”

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?”

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.

“Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…”

Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.

Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya.

Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang:

Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.

Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor).

Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak.

Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.

Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: “There goes a very great man!!” Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.

Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.

Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.

Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk

Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?

Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?

Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya terdorong untukmenoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter.

Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.

Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.

Dibunuh Perlahan

Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.

Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.

Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita.

dikutip dari blog mas andi di www.andists.info

Sekelumit Kisah Kematian Bung Karno

Tidak diperjelas karena kemungkinan besar akan membongkar belang dari beberapa orang ...
Sejarah ditulis oleh jenderal yang menang pera
ng ... jadi sejarah akan selalu berkata baik - baik tentang jenderal yang menang perang dan jelek - jelek tentang jenderal yang kalah di perang ...
Itu sudah natural ... usaha untuk meluruskan sebenarnya sudah ada ... tapi power orang - orang yang berusaha meluruskan selalu kalah oleh orang - orang yang tidak ingin ...

Orang - orang yang berusaha meluruskan sejarah atau berani mencari tau tentang kebenaran sejarah, biasanya akan diteror atau diancam. Keadaan paling parah, dihilangkan (dibunuh). So, akan sangat mustahil untuk meluruskan sejarah.

2008/2/1 ketut nick darsana :

terus terang , emang sangat menyedihkan mendengar ataupun membaca akhir kisah perjuangan bung karno, setiap orang punya versi yang berbeda -beda mengenai bung karno namun kontek nya tetap sama dimana bung karno adalah orang yang terabaikan .namun yang paling saya tidak mengerti adalah dari dulu tidak ada action untuk meluruskan sejarah tersebut.dan ada beberapa yang perlu untuk di perjelas juga seperti supersemar, akan tetapi ceritanya stuck sampe disana.


Soekarno - Sejarah yang tak memihak
Posted by Iman Brotoseno under:
SEJARAH; SOEKARNO .

Malam minggu. Hawa panas dan angin
seolah diam tak berhembus. Malam
ini saya bermalam di rumah ibu saya.
Selain rindu masakan sambel
goreng ati yang dijanjikan, saya juga
ingin ia bercerita mengenai
Presiden Soekarno. Ketika semua mata
saat ini sibuk tertuju, seolah
menunggu saat saat berpulangnya
Soeharto, saya justru lebih tertarik
mendengar penuturan saat berpulang
Sang proklamator. Karena orang tua
saya adalah salah satu orang yang
pertama tama bisa melihat secara
langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang
baru pulang berbelanja, mendapatkan
Bapak ( almarhum ) sedang menangis
sesenggukan.
" Pak Karno seda " ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer
mereka bisa sampai di Wisma Yaso.
Suasana sungguh sepi. Tidak ada
penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3
truk berisi prajurit Marinir ( dulu
KKO ). Saat itu memang Angkatan
Laut, khususnya KKO sangat loyal
terhadap Bung Karno. Jenderal KKO
Hartono - Panglima KKO - pernah
berkata ,
" Hitam kata Bung Karno, hitam kata
KKO. Merah kata Bung Karno, merah
kata KKO "
Banyak prediksi memperkirakan
seandainya saja Bung Karno menolak
untuk
turun, dia dengan mudah akan melibas
Mahasiswa dan Pasukan Jendral
Soeharto, karena dia masih didukung
oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa
divisi Angkatan Darat seperti
Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan
panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta
terhadap negara ini. Sedikitpun ia
tidak mau memilih opsi pertumpahan
darah sebuah bangsa yang telah
dipersatukan dengan susah payah. Ia
memilih sukarela turun, dan
membiarkan dirinya menjadi tumbal
sejarah.
The winner takes it all. Begitulah
sang pemenang tak akan sedikitpun
menyisakan ruang bagi mereka yang
kalah. Soekarno harus meninggalkan
istana pindah ke istana Bogor . Tak
berapa lama datang surat dari
Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir
Mahmud - disampaikan jam 8 pagi
yang meminta bahwa Istana Bogor harus
sudah dikosongkan jam 11 siang.
Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno
mengumpulkan pakaian dan barang
barang yang dibutuhkan serta
membungkusnya dengan kain sprei. Barang
barang lain semuanya ditinggalkan.
" Het is niet meer mijn huis " -
sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,
demikian Bung Karno menenangkan
istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Soekarno
pindah ke Istana Batu Tulis
sebelum akhirnya dimasukan kedalam
karantina di Wisma Yaso.
Beberapa panglima dan loyalis
dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie
diasingkan menjadi dubes di London .
Jendral KKO Hartono secara
misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan
ibu saya. Saat itu belum banyak
yang datang, termasuk keluarga Bung
Karno sendiri. Tak tahu apa mereka
masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah
dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan
kamar yang suram, terbaring sang
proklamator yang separuh hidupnya
dihabiskan di penjara dan pembuangan
kolonial Belanda. Terbujur dan
mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan
Ali Sadikin - Gubernur Jakarta -
yang juga berasal dari KKO Marinir.

Bung Karno meninggal masih mengenakan
sarung lurik warna merah serta
baju hem coklat. Wajahnya bengkak
bengkak dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang
bersih, dingin berAC dan penuh
dengan alat alat medis disebelah
tempat tidurnya. Yang ada hanya
termos dengan gelas kotor, serta
sesisir buah pisang yang sudah hitam
dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk.
Kamar itu agak luas, dan
jendelanya blong tidak ada gordennya.
Dari dalam bisa terlihat halaman
belakang yang ditumbuhi rumput alang
alang setinggi dada manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat.
Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet
di lantai di ruang tengah.
Ibu dan Bapak saya serta beberapa
orang disana sungkem kepada jenasah,
sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra
datang, dan juga orang orang
lain.
Namun Pemerintah orde baru juga
kebingungan kemana hendak dimakamkan
jenasah proklamator. Walau dalam Bung
Karno berkeingan agar kelak
dimakamkan di Istana Batu Tulis,
Bogor . Pihak militer tetap tak mau
mengambil resiko makam seorang
Soekarno yang berdekatan dengan ibu
kota.
Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya
sebagai peristirahatan
terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto
tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas
wakil komandan Cakrabirawa,
" Bung karno diinterogasi oleh Tim
Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara
yang amat kasar, dengan memukul
mukul meja dan memaksakan jawaban.
Akibat perlakuan kasar terhadap
Bung Karno, penyakitnya makin parah
karena memang tidak mendapatkan
pengobatan yang seharusnya diberikan. "
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta
1966 )

dr. Kartono Mohamad yang pernah
mempelajari catatan tiga perawat Bung
Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9
Juni 1970 serta mewancarai dokter
Bung Karno berkesimpulan telah terjadi
penelantaran. Obat yang
diberikan hanya vitamin B, B12 dan
duvadillan untuk mengatasi
penyempitan darah. Padahal penyakitnya
gangguan fungsi ginjal. Obat
yang lebih baik dan mesin cuci darah
tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan
lebih lanjut,
" Bung Karno justru dirawat oleh
dokter hewan saat di Istana
Batutulis. Salah satu perawatnya juga
bukan perawat. Tetapi dari Kowad
"
( Kompas 13 Januari 2008 )

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan
terhadap mantan Presiden
Soeharto, yang setiap hari tersedia
dokter dokter dan peralatan
canggih untuk memperpanjang hidupnya,
dan masih didampingi tim pembela
yang dengan sangat gigih membela
kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun
Soeharto tidak pernah datang
berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim kejaksaan harus datang ke
rumahnya di Cendana. Mereka harus
menyesuaikan dengan jadwal tidur siang
sang Presiden !

Malam semakin panas. Tiba tiba saja
udara dalam dada semakin bertambah
sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa
yang menjadi kerdil dan
munafik. Apakah jejak sejarah tak
pernah mengajarkan kejujuran ketika
justru manusia merasa bisa meniupkan
roh roh kebenaran ? Kisah tragis
ini tidak banyak diketahui orang.
Kesaksian tidak pernah menjadi
hakiki karena selalu ada tabir tabir
di sekelilingnya yang diam
membisu. Selalu saja ada korban dari
mereka yang mempertentangkan
benar atau salah.

Butuh waktu bagi bangsa ini untuk
menjadi arif.
Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Keterbukaan adalah pelaksanaan kata
kata
( * WS Rendra )

Kisah Soekarno Penakluk Wanita


“Bung Karno sang penakluk”. Itulah judul alternatif tulisan ini. Atau… sempat pula kutulis judul yang agak provokatif: “Bule-bule Pacar Bung Karno”. Tapi akhirnya, kuputuskan judul yang sekarang, “Kisah Bung Karno Menaklukkan Empat Noni Belanda”. Sekalipun ini urusan cinta, tapi kata “menaklukkan” terkesan lebih heroik. Kesan yang melekat secara otomatis ketika kita menyebut namanya.
Ini adalah sepenggal pengalaman hidup proklamator kita saat ia duduk di bangku HBS (Hogere Burger School), sebuah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. HBS setara dengan MULO + AMS atau SMP + SMA, namun hanya 5 tahun. Di HBS Surabaya, ketika itu, dari lebih 100 murid, hanya 20 orang saja yang pribumi.

Pada waktu itu HBS hanya ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Medan, sedangkan AMS ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya. Begitu sekelumit tentang HBS.

Nah… sebagai pemuda, Bung Karno dalam penuturannya kepada Cindy Adams, penulis biografinya, menuturkan ihwal semangatnya yang membara untuk bisa menaklukkan noni-noni Belanda, agar bisa menjadi pacarnya. Bukan saja karena rasa penasarannya sebagai laki-laki menaklukkan gadis bangsa penjajah… lebih dari itu, ia punya tujuan lain, yakni agar cepat mahir berbahasa Belanda.

Sebagai pemuda yang mengaku tampan selagi muda, Bung Karno penuh percaya diri “mengejar” gadis-gadis kulit putih. Dengan kepandaian otaknya, dengan penampilannya yang percaya diri, serta dengan tampangnya yang tampan, singkat kata Sukarno muda mulai mendapatkan gadis-gadis putih idamannya. Ia mencatat, gadis bule HBS pertama yang jadi kekasihnya bernama Pauline Gobee, anak salah seorang gurunya di HBS. Pauline dikisahkan sebagai seorang gadis yang cantik, dan Sukarno tergila-gila kepadanya.

Kemudian, cinta Sukarno beralih ke gadis putih lain bernama Laura. Ooo… betapa Sukarno juga memuja Laura. Tapi tak berlangsung lama. Perburuan cinta Sukarno, berhasil menangkap seorang kekasih bule yang nomor tiga. Mungkin Sukarno tidak benar-benar mencintai. Buktinya, ia sendiri lupa akan namanya. Yang ia ingat, gadis itu dari keluarga Raat, seorang Indo yang punya beberapa putri cantik. Yang juga ia ingat, rumah keluarga Raat adalah berlawanan arah dengan rumah yang ditinggali Sukarno. Sekalipun begitu, selama berbulan-bulan pacaran, Bung Karno rela tiap hari jalan berputar arah hanya untuk gadis pujaannya.
Nah, tambatan hati keempat adalah seorang noni Belanda nan cantik. Sukarno ingat betul namanya: Mien Hessels. Seketika, Mien Hessels mampu menutup lembaran-lembaran indah Sukarno muda bersama Pauline, Laura dan juga putri keluarga Raat. Mien Hessels telah menyihir Sukarno menjadi gelap mata. Sukarno memuja Mien Hessels sebagai “kembang tulip berambut kuning berpipi merah mawar”. Kulitnya halus selembut kapas. Rambut blondenya ikal mayang. Pribadinya memesona. Sukarno bahkan merasa rela mati untuk mendapatkan gadis pujaannya. Usia Sukarno 18 tahun, ketika itu.

Dan… Sukarno benar-benar nekad. Suatu hari, ia menetapkan hati melamar Mien Hessels. Mengenakan busana terbaik, bersepatu pula, Sukarno duduk di kamar, melemaskan lidah, menghafal kata, melatih bicara: Melamar Mien Hessels menjadi istrinya!

Sore yang cerah, Sukarno menuju rumah Mien Hessels. Begitu memasuki halaman rumahnya, hatinya menggigil ketakutan. Belum pernah sekali pun Sukarno bertamu ke rumah orang Belanda yang mewah. Halamannya ditumbuhi rerumputan laksana hamparan beludru hijau. Kembang-kembang aneka warna berdiri tegak baris demi baris. Sementara, Sukarno tak punya topi untuk dipegang. Karenanya, ia hanya memegang hati, agar tak gugup nanti.

Di hadapan seorang laki-laki tinggi besar, ayah kekasih hatinya, Bung Karno melepas kata, “Tuan… kalau Tuan tidak keberatan, saya ingin minta anak tuan….” Belum selesai Sukarno muda bicara, ayah Hessels melabraknya, “Kamu?! Inlander kotor seperti kamu? Kenapa kamu berani-berani mendekati anakku?! Keluar kamu binatang kotor. Keluar!!!”

Persis adegan sinetron konyol… Sukarno angkat kaki dengan perasaan seperti dicambuk, muka dicoreng, hati terhina. Peristiwa itu, melekat sepanjang hayat.

Tuhan sungguh mencintai Sukarno. Waktu trus berlalu… 23 tahun sejak peristiwa menyedihkan itu terjadi, tepatnya tahun 1942. Perang Dunia II tengah berkecamuk. Sukarno sendiri sudah menjelma menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan bagi bangsanya. Suatu sore, ketika sedang berjalan-jalan di suatu jalanan di Jakarta, ia mendengar seorang wanita menyebut namanya, “Sukarno?” Berpalinglah Sukarno ke arah pemanggil seraya menjawab, “Ya, saya Sukarno.”

Wanita itu tertawa terkikik-kikik, “Dapat kau menerka siapa saya?” Sukarno memandangi wanita berbadan besar, jelek, tak terpelihara. “Tidak, Nyonya… saya tidak dapat menerka, siapakah Nyonya?” Wanita itu kembali tertawa terkikik-kikik sebelum menjawab, “Mien Hessels!” dia terkikik lagi.

Hati Sukarno menyeru, “Huhhh!!! Mien Hessels! Putriku yang cantik seperti bidadari, kini sudah berubah menjadi perempuan mirip tukang sihir, buruk dan kotor….” Sadar ia melamun, buru-buru Sukarno memberi salam kepada mantan kekasihnya di Surabaya dulu. Setelah itu, ia berpamit untuk berlalu.

Sejurus kemudian, ketika mengenang pertemuannya dengan Mien Hessels, Bung Karno mendesiskan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Hati kecilnya berucap, “Caci maki yang telah dilontarkan ayahnya dulu, sesungguhnya suatu rahmat yang tersembunyi….” (roso daras)

Soekarno Presiden Pertana Indonesia


Presiden pertama Republik ini ternyata seorang Muhammadiyah tulen. Hal itu tersirat dari dua suratnya yang kini masih tersimpan di rumah bekas pengasingannya di Bengkulu. Surat berkah yang amat berharga itu masih tersimpan dengan baik dan dijaga oleh Darwis Andrian, penjaga rumah bekas pengasingannya itu di Bengkulu.Dua pucuk surat asli Soekarno itu pemberian R Soediana, sahabat Bung Karno di Bumi Raflesia. Surat itu masing-masing surat dinas asli dan satunya lagi surat pribadi tulisan tangan.

Surat ini ditandatangani Soekarno, yang waktu itu menjabat voorzitter Consul Hoofdbestuur Moehammadijah Daerah Benkoelen.
Surat pertama 26 Desember 1939, isinya minta R Soediana, guru di Palak Siring, pindah mengajar ke Madrasah Ibtidaijah di Kebun Roos, Benkoelen. Sedang surat kedua 29 Oktober 1941, pemindahan Soediana ke Talang Leak, Moeara Aman (Sumsel) bergaji Rp 20.
Dari isi kedua surat ini membuktikan bahwa Bung Karno ternyata seorang Muhammadiyah. Bahkan saat itu Putra Sang Fajar tidak saja aktif membina organisasi keagamaan itu, ketika di Bengkulu Soekarno pun sempat menyunting putri warga Muhammadiyah yakni Fatmawati.
Belakangan ini beragam cerita dan kisah Proklamator Ir Soekarno banyak digali orang. Namun, bagaimana persis kisah Presiden Pertama RI itu ketika diasingkan di Bengkulu antara tahun 1938-1942, mungkin belum banyak yang tahu. Dalam beberapa buku sejarah yang hanya hitungan jari, tampak sebagian kecil saja disinggung tentang keberadaan Soekarno lebih empat tahun di daerah yang berjuluk "Bumi Raflesia" ini. Karenanya kalau ingin tahu lebih banyak tentang itu, tak ada salahnya Anda berkunjung ke bekas rumah pengasingan Soekarno di kawasan Anggut Atas, Jalan Soekarno-Hatta, persis di tengah Kota Bengkulu. Di situ, Darwis Andrian (50) mampu bercerita banyak berbagai hal menyangkut itu.
Kendati bukan sejarawan, Darwis mampu berkisah nyaris detail tentang hari-hari Bung Karno di Bengkulu. Mulai anjing kesayangan Soekarno, kebiasaan jalan kaki ke luar masuk kampung, mengajar drama sampai kisah cinta romantis dengan "kembang desa" bernama Fatmawati.
Lalu kenapa harus Darwis Andrian? Ini bukan karena ia seorang juru kunci di rumah pengasingan Soekarno belasan tahun, melainkan boleh dikata dialah di Bengkulu yang sampai sekarang tanpa kenal lelah "menyusuri jejak" Presiden pertama ini. Tidak sebatas itu, Darwis bahkan terus memburu barang-barang warisan Soekarno, untuk kepentingan sejarah dan kebanggaan Bengkulu.
"Saya lakukan ini demi pengabdian. Meski banyak orang atau lembaga tak peduli, kecuali saat kedatangan tamu penting ke Bengkulu. Dengan cara dan kemampuan sendiri, saya coba berbuat sesuatu untuk kepentingan lebih besar. Walaupun sebelum reformasi, hal-hal yang berbau Soekarno "sengaja" diabaikan," katanya.
KOMITMENNYA kuat terhadap upaya pencarian dan pelestarian jejak Soekarno di Bengkulu. Dia pun nyaris tanpa pamrih dan tidak mengharap penghargaan, berburu dan berjuang ke mana-mana. Walaupun usaha ini kerap kali tanpa hasil dan dianggap angin lalu saja.
Guna menyelamatkan sedikitnya 400 judul buku koleksi Soekarno misalnya, Darwis sudah berkali-kali mencari kurator dan mengajukan upaya penyelamatan ke berbagai pihak yang dinilai kompeten. Tidak terkecuali, ia hampir dengan nada mengemis menawarkan itu ke lembaga Arsip Nasional. Penyelamatan buku-buku sejarah yang teramat bernilai ini baik dalam bentuk duplikasi (fotokopi), terjemahan, mikro-film atau bentuk lain bagi Darwis mutlak dilakukan. Sebab, semua buku Soekarno itu kini kondisinya sudah melapuk, nyaris hancur dimakan rayap.
Meski sudah dilakukan bertahun-tahun, sampai sekarang ternyata tidak ada satu pun respons. Padahal, rata-rata pengunjung yang datang ke rumah kediaman Soekarno ini menyatakan keinginannya untuk bisa membaca dan membolak-balik koleksi Bung Karno tersebut. Bahkan, sejumlah ilmuwan dan turis asal Belanda dari dulu secara gigih mengincar buku-buku itu.
"Besarnya rasa keingintahuan orang terhadap buku-buku ini, tidak bisa dilepaskan dari nama besar dan sosok seorang Bung Karno. Apalagi buku koleksi mantan Presiden RI itu sangat beragam, meliputi bidang kesenian, politik, agama, sastra, dan kesehatan. Sebagian besar buku-buku ini berbahasa Belanda dan sangat langka," ujarnya.
Rasa sedih dan keprihatinan, sampai kini tetap menyelimuti diri seorang Darwis. Sebab jangankan biaya untuk membuat duplikasi buku, biaya perawatan saja tak seperser pun dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bengkulu sejak 15 tahun terakhir. Selama ini yang diandalkan cuma sumbangan pengunjung yang besarnya rata-rata Rp 500 - Rp 1.000, tergantung maunya mereka.
Dalam kondisi seperti itu, tidak perlu heran kalau sekarang kita menyaksikan buku-buku yang sudah rusak dan melapuk. Kondisi bangunan rumah kediaman Bung Karno di Bengkulu ini pun tak kalah "serem", merana tanpa pemeliharaan serius. Beberapa bagian tampak keropos, dinding bangunan berlumut dan genteng bocor. Lebih menyedihkan lagi, sebagai sebuah "rumah sejarah" yang pernah dihuni bertahun-tahun oleh salah satu pendiri negara RI itu justru sama sekali tidak pernah dilengkapi saluran telepon.Satu peristiwa teramat memprihatinkan pernah terjadi ketika aliran listrik ke rumah Bung Karno sempat diputus lama PLN. Hampir bertahun-tahun, rumah yang menjadi salah satu bukti sejarah itu gelap gulita tanpa penerangan selain lampu teplok.
"Beruntung tahun lalu Wapres Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Bengkulu. Hanya sehari menjelang kedatangan putri Bung Karno itu, buru-buru pemerintah dan PLN setempat sibuk memasang sambungan listrik kembali. Jika tidak, bisa dipastikan rumah ini pasti masih gelap dan ditelantarkan begitu saja. Sebagai PNS rendahan, saya hanya bisa pasrah sewaktu listrik dicabut dulunya," tukasnya.
Darwis melukiskan, untuk membersihkan lingkungan bekas rumah pengasingan Soekarno seluas kurang lebih satu hektar, ia lakukan tiga kali dalam sebulan. Untuk kebutuhan operasional mesin pemotong rumput menghabiskan minyak campur 60 liter per dua bulan.
Selain itu, guna mengganti pisau pemotong rumput, dua bulan sekali, ia terpaksa merogoh kocek Rp 57.500. Sekiranya lir-nya putus, untuk penggantian harus dikeluarkan lagi biaya ekstra sekitar Rp 225.000. "Beruntung bisa menyisihkan sedikit demi sedikit uang gaji saya sebagai PNS di bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Departemen Pendidikan Nasional Bengkulu," paparnya.
Pengabdian Darwis tampaknya memang tak kenal lelah. Begitu pulang dari tugas pokoknya di Kantor Dinas Diknas Bengkulu sekitar pukul 14.00, ia harus berbenah, menyiapkan diri melayani para pengunjung bekas rumah kediaman Soekarno. Sebab, para tamu tidak semata hari libur karena pada hari biasa pun banyak yang mampir ke situ. Beruntung ia diberi izin menempati rumah petak di bagian belakang rumah induk. Sehingga tak merepotkan tugas gandanya sepanjang hari, sejak 15 tahun lalu sampai sekarang.
BUKU koleksi Soekarno, menurut Abdul Manaf (meninggal usia 86 tahun 1997), cerita Darwis, jumlahnya sekitar 12 peti. Manaf tahu itu, karena dia yang memasok buku-buku tersebut diam-diam.
Waktu itu, Abdul Manaf agen Panji Islam di Bengkulu. Manaf tahu persis kesukaan Bung Karno yang doyan baca, sekaligus untuk mengisi keseharian di pengasingan. Khusus buku yang masih tersimpan di bekas rumah pengasingan sekitar 400 judul. Ini adalah buku koleksi Bung Karno yang berhasil diselamatkan bertahun-tahun.
"Dari tiga teman dekat Bung Karno, yakni Abdul Manaf, Bachtiar Karim dan Abdullah, saya mendapatkan banyak cerita tentang Soekarno. Mereka semua kini sudah tiada," jelas Darwis, yang saat senggang rutin menuliskan catatannya. Catatan itu sudah ada diterbitkan berbentuk buku, yaitu Rumah Kediaman Bung Karno pada Waktu Pengasingan di Bengkulu (1938-1942) dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Buku sederhana 16 halaman itu diterbitkan pertama Mei 1997. Harga buku ini memang sekadar pengganti ongkos cetak, cuma Rp 3.000. Buku itu praktis, sehingga laris. Malah sudah dua kali cetak ulang. Darwis pun pasrah, namanya tidak dicantumkan sebagai penulis, tapi atas nama orang lain.
"Jangankan berbicara royalti, ucapan terima kasih pun tidak pernah saya terima. Baik dari yang mengklaim sebagai penulis maupun penerbit. Beruntung saya masih simpan naskah aslinya dengan isi lebih lengkap dari buku yang sudah dicetak ulang itu," katanya, sembari melihatkan naskah asli itu.
Bung Karno di Bengkulu, katanya, juga diketahui pernah membuat dua lukisan. Salah satunya lukisan wanita cantik. "Sampai sekarang lukisan itu tidak ditemukan. Saya sudah cari ke mana-mana, bahkan sampai ke Muko-Muko (Bengkulu Utara) di perbatasan Sumatera Barat. Akan tetapi, hasilnya tetap nihil," ujar Darwis. (nal/zul)