Tampilkan postingan dengan label CONSTANTINE YANG AGUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CONSTANTINE YANG AGUNG. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2011

Constantine the Great 250-337

This figure first Roman emperor who embraced Christian Religion. Through convert it and various ways by which this development, he held prominent role in this change of religion Christian Religion which are pursued and threatened with punishment became the dominant religion in Europe.
Constantine was born about the year 280 in the city Naissus (now named Nis) in the country which is now Yugoslavia. His father was a high-ranking officers, and Constantine spent his youth in Nicomedia, where the court of Emperor Diocletian located.
Diocletian ascended the throne in 305 and father of Constantine - Constantius - became ruler in the western part of the Roman Empire. When Constantius died in the following year, Constantine declared emperor by his soldiers. However, other generals at odds with each other about this coronation and civil war was inevitable. This new war ended in 312 when Constantine defeated by opponents who still survive - Maxentius - in a battle at Milvian bridge near the city of Rome.
Not certain when Constantine entered Christian Religion. The stories commonly heard saying, at times before the battle at the bridge Milvian, Constantine saw a cross burning in the sky and says "By this sign you will be able to conquer." No matter when he entered the Christians, Constantine did much for the progress of Christian Religion. Pemulanya One step is to make the Act Milan. With this law is The Christian religion is legal and tolerated religion. The law also allows the return of Church property that was seized during the chase and ransacked in the past. Also declared Sunday as a day of worship.
Milan Law is not based solely by the attitude of religious tolerance. Instead, the government Constantine can be considered as a sign bermulanya oppression against the Jews who continued to take place in Christian Europe in the coming centuries.
Constantine was never made Christianity as the official state religion. However, through legislation and political steps he is clearly driving the development of this religion. In his reign it was obvious, anyone who entered the open door of Christianity means to him in terms of ease up a career ladder in administration. And decisions issued by Constantine also provides immunity and privileges of the church. Similarly, he built the famous churches in the world - such as the birth of Jesus Church in Bethlehem and the Tomb of Jesus church in Darussalam. All of this church was built at the time of Constantine.
The role of the Roman Emperor Constantine as a Christian religion by itself make him eligible list in the order listed in this book. However, some actions contain the effects of distant futures. For example, he is renovating and expanding the city of Byzantium, and replaced with the name of Constantinople (now Istanbul) is one of the largest cities in the world and still be the capital of the Byzantine Empire until 1453 and several centuries later became the capital of the Ottoman Empire.
Constantine also played an important role in the internal history of the church. Involve themselves in disputes between the followers of Arius and Athonius (two Christian theologians who propose different doctrine), Constantine called the Council meeting Nicola (at 325), the first church council proceedings. Council where Constantine took part actively, to resolve disputes with the accepted doctrine of the Nicene, which later became the orthodox doctrine of the church.
Another important thing is its role in relation to the preparation of civil regulations. Constantine make the legislation governing companies down through the generations (like Joqal, baker). The issuance of the decree which it also set the "colony" (peasant class) are forbidden to leave the ground garapannya. In the modern sense of this decree means to change the "colony" (sharecroppers), a slave, bound with the soil. This decree and other rules are the foundation stone of the whole social structure in medieval Europe.
Constatine not baptized until he lay in bed in a state of dying, though obviously he had entered The Christian long before that. However, concurrent with it is also true that the soul kenasraniannya faded completely. Although the size of the time, he was so violent and cruel. This attitude is not directed to his opponents only. The causes are not clear, he punishes his wife and son in 326.
Can be questioned, the acceptance of The Christian Constantine previously not alter the course of history, but only endorse things that can not be inevitable. In addition, although Biocletian Emperor (reigned from 284-305) has done a great gencetan of Christian Religion, his efforts to make religion that does not work because it was Christian Religion is much more powerful than the power that will be hit even by acts of cruel however. Tarolah people regard the failure of an experiment gone Biocletian quell Religion Christianity and religion could win even without interfering Constantine altogether. Supposition and speculation like that is interesting, but not convincing and uncertain. It's hard to imagine what would happen without Constantine. It is very clear, with encouragement, Religion Christianity is widespread both in number and size following regional influence. From a small group that does not mean only in a period of one century become an established religion and have a great influence in the world.
Evidently so, Constantine is a pivot figures in European history. Place in the order list is higher than the figures of Alexander the Great, Napoleon and Hitler because the effect of a long range.

Kamis, 02 Juli 2009

CONSTANTINE YANG AGUNG ± 250-337

Tokoh ini Kaisar Romawi pertama yang memeluk Agama Nasrani. Lewat masuk agama itu dan pelbagai cara pengembangan yang ditempuhnya, dia memegang peranan menonjol dalam hal mengubah Agama Nasrani dari agama yang diuber-uber dan diancam hukuman menjadi agama yang dominan di Eropa.
Constantine dilahirkan kira-kira tahun 280 di kota Naissus (sekarang bernama Nis) di negeri yang kini menjadi Yugoslavia. Ayahnya seorang perwira tinggi, dan Constantine menghabiskan masa mudanya di Nicomedia, tempat pengadilan Kaisar Diocletian berada.
Diocletian naik tahta tahun 305 dan ayah Constantine --Constantius--menjadi penguasa di paruh sebelah barat Kekaisaran Romawi. Tatkala Constantius meninggal dunia di tahun berikutnya, Constantine dinyatakan sebagai kaisar oleh para prajuritnya. Tetapi, jendral-jendral lainnya saling berselisih mengenai penobatan ini dan perang saudara pun tidak bisa dielakkan lagi. Peperangan ini baru berakhir tahun 312 tatkala Constantine dikalahkan oleh lawannya yang masih bertahan --Maxentius-- dalam suatu pertempuran di jembatan Milvian dekat kota Roma.
Tak bisa dipastikan kapan Constantine masuk Agama Nasrani. Cerita-cerita yang lazim terdengar bilang, pada saat-saat menjelang pertempuran di jembatan Milvian, Constantine melihat salib menyala di langit dan bertuliskan "Dengan tanda ini kau akan mampu menaklukkan." Tak peduli kapan dia masuk Nasrani, Constantine berbuat banyak buat kemajuan Agama Nasrani. Salah satu langkah pemulanya adalah membuat Undang-Undang Milan. Dengan undang-undang ini Agama Nasrani merupakan agama legal dan agama yang ditolerir. Undang-undang itu juga memungkinkan kembalinya kekayaan Gereja yang tadinya dirampas di masa penguberan dan diobrak-abrik di masa lampau. Juga dinyatakan hari Minggu sebagai hari beribadah.
Undang-undang Milan tidaklah didasarkan semata-mata oleh sikap toleransi terhadap agama. Sebaliknya, pemerintah Constantine dapat dianggap sebagai tanda bermulanya penindasan terhadap orang-orang Yahudi yang terus berlangsung di Eropa yang Kristen di abad-abad mendatang.
Constantine tidak pernah menjadikan agama Nasrani sebagai agama resmi negara. Tetapi, lewat peraturan dan langkah-langkah politiknya dia jelas pendorong perkembangan agama ini. Di masa pemerintahannya jelas sekali, barangsiapa yang masuk Nasrani berarti pintu terbuka baginya dalam hal kemudahan naik jenjang dalam karier pemerintahan. Dan keputusan-keputusan yang dikeluarkan Constantine juga memberikan kekebalan dan hak-hak istimewa bagi pihak gereja. Begitu pula dia membangun gereja-gereja yang termasyhur di dunia --seperti gereja kelahiran Isa di Bethlehem dan gereja Makam Isa di Darussalam. Kesemua gereja ini mulai dibangun pada saat pemerintahan Constantine.
Peranan Constantine selaku Kaisar Romawi yang beragama Nasrani dengan sendirinya membuat dia berhak tercantum di dalam daftar urutan buku ini. Tetapi, beberapa tindakannya mengandung akibat-akibat berjangka jauh. Misalnya, dia memugar dan memperluas kota Byzantium, dan diganti dengan nama Constantinople (sekarang bernama Istambul) merupakan salah satu kota terbesar di dunia dan tetap jadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur sampai tahun 1453 dan beberapa abad kemudian menjadi ibukota kekaisaran Ottoman.
Constantine memainkan pula peranan penting dalam sejarah internal gereja. Melibatkan diri dalam sengketa antara pengikut-pengikut Arius dan Athonius (dua teolog Kristen yang mengajukan doktrin berbeda), Constantine memanggil rapat Dewan Nicola (di tahun 325), dewan persidangan gereja pertama. Dewan tempat Constantine ambil bagian dengan aktif, dapat memecahkan persengketaan itu dengan diterima Doktrin Nicene, yang kemudian menjadi doktrin gereja yang ortodoks.
Hal penting lain adalah peranannya dalam hubungan penyusunan peraturan-peraturan sipil. Constantine membuat perundang-undangan yang mengatur perusahaan-perusahaan turun-temurun (seperti Joqal, tukang roti). Dikeluarkannya pula dekrit yang isinya mengatur "coloni" (kelas petani penggarap) dilarang meninggalkan tanah garapannya. Dalam pengertian modern dekrit ini berarti merubah "coloni" (petani penggarap) menjadi budak, yang terikat dengan tanahnya. Dekrit ini dan lain-lain aturan merupakan peletak dasar dari seluruh struktur sosial di jaman pertengahan Eropa.
Constatine tidak dibaptis sampai ia terbaring di tempat tidur dalam keadaan sekarat, walaupun jelas dia sudah masuk Agama Nasrani jauh sebelum itu. Tetapi, berbarengan dengan itu juga benar bahwa jiwa kenasraniannya sudah luntur sepenuhnya. Walau dengan ukuran saat itu, dia begitu beringas dan kejam. Sikap ini bukan tertuju kepada lawan-lawannya semata. Oleh sebab-sebab yang kurang jelas, dia menghukum istri serta anak lelakinya pada tahun 326.
Bisa dipersoalkan, penerimaan Constantine terhadap Agama Nasrani sebelumnya tidaklah mengubah jalannya sejarah, tetapi sekedar mengabsahkan hal-hal yang memang tak bisa terelakkan. Selain itu, meski Kaisar Biocletian (memerintah dari tahun 284-305) telah melakukan gencetan yang hebat terhadap Agama Nasrani, usahanya membuat agama itu tidak berhasil karena saat itu Agama Nasrani jauh lebih kuat dari kekuatan yang akan menghantamnya walau dengan tindak kejam bagaimanapun. Tarolah orang menganggap kegagalan percobaan Biocletian menumpas habis Agama Nasrani dan agama itu bisa meraih kemenangan meskipun tanpa ikut campur Constantine samasekali. Anggapan dan spekulasi seperti itu memang menarik, tetapi tidak meyakinkan dan tidak pasti. Sulit sekali dibayangkan apa yang akan terjadi tanpa Constantine. Amatlah jelas, dengan dorongannya, Agama Nasrani menyebar luas baik dari ukuran jumlah maupun daerah berikut pengaruh. Dari sekelompok kecil yang tak berarti hanya dalam jangka waktu satu abad menjadi agama yang mapan dan punya pengaruh besar di dunia.
Teranglah sudah, Constantine merupakan tokoh poros dalam sejarah Eropa. Tempatnya dalam urutan daftar lebih tinggi ketimbang tokoh-tokoh Alexander Yang Agung, Napoleon dan Hitler karena pengaruhnya yang punya jangkauan panjang.