Senin, 24 Desember 2007

Buku Long March SILIWANGI

0leh Bambang Hidayat
Limapuluh sembilan tahun yang lalu terlukis saat bersejarah bagi Republik Indonesia dan bagi Divisi Siliwangi, walau harus diakui dan disadari bahwa kedua peristiwa itu sebenarnya masih terdapat dalam satu bingkai perjuangan menegakkan negara Indonesia. Bagi Republik Indonesia yang muda peristiwa penerjunan para Belanda di lapangan Terbang Maguwo, sambil menewaskan tidak kurang dari 60 orang satria muda, merupakan catatan hitam dalam lembar perjuangannya. Catatan hitam karena dadakan aib pihak Belanda telah mencoreng upaya perundingan diplomatik, yang masih dalam fase penyelesaian, antara kedua negara yang bersengketa. Aib atau tidak, adalah hal yang subyek pada penilaian dalam suatu persengketaan yang melibatkan prinsip hidup dan manusiawi masing-masing, Indonesia harus membebaskan diri dari belenggu penjajahan, suatu pekik perjuangan hidup yang tidak dapat ditawar lagi demi masa depan. Sedangkan Belanda, yang sudah merasakan nikmatnya mempunyai koloni subur-makmur enggan mundur. Bahkan kata bersayap kaum konservatif di Belanda selalu mendengungkan ketakutan “Indie verloren ramspoed geboren” (kehilangan Indie, yakni Indonesia, terjadilah malapetaka).Entah karena tujuan idiil atau karena arogansi dan kekurangpahaman sejarah Belanda mempertahanakan pendapatnya itu dan mempunyai konsiderans dengan latar belakang abad sebelumnya menuntun tindakannya ingin menguasai kembali Indonesia .Dari negara yang terjajah (oleh Jerman) dua tahun sebelumnya kembali ingin mengetrapkan penjajahan koloninya yang lama dan yang telah berubah karena siraman nasionalisme.
Pada tanggal 18 Desember 1948 jam 23:55 wakil Indonesia di “Batavia” (walau sebenarnya sudah semenjak April 1942 oleh Pemerintahan Balatentara Dai Nippon nama itu diganti menjadi Jakarta—suatu tindakan Jepang untuk menarik hati rakyat) Bapak Yusuf Ronodipuro diberitahu oleh pihak Belanda tentang pembatalan (sepihak) perundingan diplomatik Indonesia-Belanda. Pembatalan itu adalah tanda awal serangan Belanda menuju ke jantung Indonesia (Yogyakarta) pusat spirit perjuangan dan Pemerintahan Republik Indonesia. Pada lewat tengah malam,beberapa menit setelah pembatalan perundingan, KST (Korps Speciale Troepen—dulu dibawah Kapten Westerling) sudah meramaikan Lapangan terbang Andir untuk siap diterjunkan ke Yogyakarta. Panglima tentara kerajaan Belanda, Jendral Simon Spoor sudah hadir disana dengan keinginan keras untuk terjun ke Yogya. Hanya nasihat Wakil Tinggi Mahkota Beel, yang mengundurkan niatannya terjun tetapi dia tetap ikut dalam sorti subuh menuju ke Yogya serta ikut berputar-putar dengan berakhir mendarat di Lapangan Kalibanteng, Semarang. Dari sana dia memonitor gerakan besar tentaranya, yang terdiri dari satuan KL maupun KNIL dan mengawasi pembentukan jembatan-udara Semarang-Yogya. Kita menamakan serangan Yogya itu, sebagai wajarnya, Perang Kolonial II, atau Perang Kemerdekaan II—yang akirnya membawa keluruhan Belanda setelah melalui jalan panjang politik. Namun sampai saat ini pihak Belanda masih sering menyebut aksi tersebut sebagai aksi polisionil suatu terminologi perolehan dari diplomat Belanda van Kleffens. Nama euphimistik itu disembulkan tidak lain untuk mengelabui dunia agar tampak seolah Belanda sedang menghadapi persoalan dalam-negeri mengejar “bandit” dan “teroris”. Padahal yang mereka hadapi adalah pejuang-sadar untuk merebut kemerdekaan bagi bangsanya. Orang seperti Poncke Princen sudah jauh hari mengetahui nilai perjuangan orang republik berkat pergaulannya dengan “seniman Senen”,yang menubuhkan kesan bahwa perjuangan itu adalah perjuangan-sadar dan terarah kaum terpelajar, tidak hanya oleh massa. Dalam bukunya ”een kwestie van keuze(2002)” dia menyatakan bahwa dia tak tahan melihat konservatisme sebagian bangsanya dan, karena itu, dia menyeberang kepihak Indonesia, bergabung dengan Batalion Kemal Idris di Pati pada bulan November 1948). Dia ikut long March Siliwangi ke Jawa barat. Dalam perjalanan bersama dengan tentara dan keluarga Siliwangi itulah dia memperoleh kepercayaan yang makin tebal bahwa perang kemerdekaan kita dimotori oleh idealisme kejiwaan yang kokoh, bukan sekedar berperang mengusir orang kulit putih.
Walaupun orang menggenggam diktum-adi bahwa perang adalah kepanjangan tangan diplomasi, tetapi perundingan berkepanjangan dapat melelahkan dan mengendurkan syaraf rasional serta menutup mata dan hati nurani melihat opsi yang mungkin lebih konstruktif. Nasionalisme Indonesia yang telah terkembang semenjak tahun 1928 sudah tidak dapat menunggu lagi untuk membebaskan negaranya dari belenggu penjajahan. Karena itu pemilihan untuk memproklamasikan negara nya menjadi merdeka hanya merupakan akibat logis dari rasionalitas itu, dan juga tidak bertentangan dengan semangat Atlanctic Charter yang mendorong tumbuhnya negara merdeka bebas dari penghisapan bangsa lain. Itu adalah alasan kemanusiaan, kebangsaan Indonesia yang dalam waktu singkat mengecambah menyembul ke permukaan arena politik dunia . Divisi Siliwangi yang merupakan subset penting dan aset herharga bangsa ini mempunyai cita-cita yang didukung keluhuran nilai, serta ketaatazasan prajurit bersedia mengikuti amanat Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia dan Panglima Siliwangi yakni—teruskan perjuangan dan kembali ke wilayah gerilya di Jawa Barat (tanggal 19 Desember 1948). Jawa Barat telah mereka tinggalkan 1 tahun sebelumnya, meninggalkan kantong-kantong perjuangan dan gerilyanya. Perjalanan patuh meninggalkan palung perjuangannya itu adalah hijrahnya sebuah Divisi—suatu entitas besar yang di kerjakan dengan seksama dan dengan ketaatan. Dapatkah kita membayangkan, sebagai restropek, apa yang akan terjadi dengan muka Republik Indonesia jika Divisi tangguh itu menolak perintah untuk dihijrahkan? Bukankah itu merupakan tamparan muka bagi negara?. Mereka tentunya akan diterima dengan tangan terbuka serta memperoleh tempat nyaman yang tersediakan oleh golongan yang membelai gagasan separatisme untuk mengoyak tubuh republik muda. Beruntunglah kita, bangsa Indonesia, Divisi tangguh itu mendahulukan dan mengedepankan kepentingan yg lebih besar dari bangsanya, menapis kepentingan dirinya sesaat. Ini harus dicatat di dalam jurnal perjuangan Republik Indonesia, sebagai tindak ksatria yang mendahulukan kepentingan bersama, setia kepada pekik perjuangan bersama.
Tatkala Negaranya hendak ditelikung, dan kedaulatannya hendak dihempaskan sekali lagi divisi ini memperlihatkan kepatuhannya kepada perintah dan siasat perang, dengan mengikuti pola Wingate berjalan menuju ke basis gerilyanya, berjalan tanpa logisitk memadai atau tidak sama sekali, sejauh rata-rata 450 kilometer melewati ngarai, lembah, gunung dan intaian serta jebakan musuh setiap saat. Kita harus mewadahi alur pikiran kita untuk mengerti dan merasakan betapa sulitnya perjalanan jauh itu , dengan keikut sertaan keluarga pejuang, tua dan muda, tanpa mengetahui sediaan makanan atau sarana kesehatan yang tersedia didepannya. Heroik sekali.
Buku yang ditulis oleh Himawan Sutanto mengulas dengan detail perjalanan panjang melalui ruang dan waktu ( 2 bulanan) hampir seluruh komponen yang kembali dari diaspora, mengikuti perjalanan pulang kewilayah yang terjanjikan—bukan the land of milk and honey, tetapi sebuah tanah air miliknya yang merdeka. Dan dinukilkan dengan hidup kesulitan yang dialami beberapa kesatuan setelah tiba diwlilayahnya sendiri: Mereka sering harus menghadapi dua buah front. Yang satu sudah jelas front ciptaan Belanda yang ingin memerintah kembali Jawadwipa, bahkan Indonesia. Tantangan dan garis batas itu mereka terjang secara berani, taat azas dan, yang penting, dengan perhitungan perang. Tetapi, sayangnya, ada front lain berujud garis sengketa dan pertempuran ciptaan bangsanya sendiri (DI/TII) yang ingin mendirikan kekuasaan atas dasar falsafah sektoral. Peracunan, penelikungan, serangan fajar, dan pembiusan dilaksanakan oleh bangsa sendiri terhadap satuan TNI, demi memperoleh kesenjataan Siliwangi dan demi peluruhan semangat Republiken yang prima. Disini kami boleh mencatat kegigihan Siliwangi, seiring dengan pengorbanan besarnya,untuk tetap mempertahankan Negara Republik Indonesia.
Kita mencatat peristiwa-peristiwa yang dapat mematahkan semangat dan hanya bisa ditanggulangi dengan serat otak yang membaja Mengenaskan karena Divisi Siliwangi; satu tahun sebelumnya di daerah hijrah sering memperoleh hinaan atau cemohan sebagai “SLW” (bulan akronim Siliwangi, tetapi Stoot Leger Wilhelmina, tentara penyerang Wilhemina ratu Belanda di kala itu). Persenjataan lengkap, ditambah disiplin tinggi dengan seragam yang relatif baik membuat ikon menjadi lebih menonjol– tentu saja bagi mereka yang iri dan tidak tahu betapa pedihnya hati prajurit.—yang terpaksa pergi meninggalkan daerah perjuangannya bukan karena kalah perang tetapi karena strategi militer dan politik menghendakinya. Itulah manifestasi kepatuhan perjuangan. Di atas semua itu, seperti yang penulis saksikan, beberapa perwira Siliwangi, karena pendidikan di Bandung, fasih mempergunakan bahasa “musuh”, Belanda, dan terdiri dari beberapa suku yang telah menyatu dalam ikatan jiwa republiken. Itu semua dipergunakan oleh penentang keberadaanya sebagai “petunjuk” keberadaan “SLW”. Kita beruntung bahwa kepedihan hati diimbangi dengan rasionalitas tinggi, kejiwaan matang serta pandangan jauh ke depan. Bahkan tanpa ragu Siliwang membantu Pemerintah menggulung dan menghancurkan pemberontakan yang disulut oleh elemen-elemen anti Republik Indonesia.
Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) pada tahun 1948 yang dimaksudkan untuk membuat tentara Nasional Indonesia lebih efektif mempunyai efek samping yang menimpa tubuh Siliwangi.Upaya Pemerintah untuk memperkuat tubuh tentaranya menjadi lebih profesional memang berdampak pada Siliwangi. Beberapa orang pemuda dan pemudi yang dengan jiwa murni ikut hijrah, lalu tersisih akibat Re-Ra. tersebut. Hal seperti ini perlu memperoleh telaah lebih lanjut.untuk mengetahui berapa orang sebenarnya yang menderita akibat keinginan baik Re-ra tersebut. Dan,lebih penting lagi untuk mengetahui karier hidup mereka di kemudian hari—suatu pekerjaan sukar dan ambisius pada 60 tahun pasca kejadian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dibukukan.
Buku Himawan Susanto ini memenuhi semua syarat historiografi, ilmiah, Referens, kecuali beberapa kekurangcermatan menulis, tersusun rapi,menuruti hampir semua standar baku; berita, dan beberapa surat keputusan yang bertautan dengan masalahnya tersedia merupakan acuan bagi penulisan itu dan bagi sejarawan muda yang di masa yang akan datang. Hasil interview menjadi imbuhan subtansil kelengkapan buku itu dengan catatan kaki dan terjemahan teks berbahasa Belanda yang mapan dan logis. Penterjemahan yang baik dan tepat perlu tersedia bagi generasi muda yang kebetulan tidak memperoleh kesempatan mempelajari bahasa Belanda. Ini bukan untuk mengagungkan Belanda tetapi mengingat kenyataan bahwa masih banyak jurnal dan penulisan periode sengketa fisik Indonesia-Belanda tertulis dalam bahasa tersebut. Himawan Sutanto, merupakan salah seorang pelaku epoch heroik longmarch Siliwangi tetapi, dalam bukunya itu, dia menjauhkan diri dari peristiwa dengan menempati kursi terhormat sejarawan dan pengamat. Namun di beberapa tempat, dia rupanya lupa, karena intimitas dengan subyeknya menyebutkan nama orang dengan panggilan “Pak”( umpama, “Pak” Kemal Idris,) bukan Mayor Kemal Idris sebagai lazimnya penulisan jurnal peristiwa oleh orang ketiga—pengamat. Lain halnya kalau penulisan itu merupakan “petit histoir”, pengalaman pribadi.
Banyak peristiwa penting tercatat di dalam buku itu. Salah satunya yang menurut hemat penulis sedikit menyimpang dari normaliter organisasi adalah pengangkatan panglima divisi, ketika panglimanya, Letkol. Daan Yahya jelas diketahui telah tertawan oleh Belanda. Wakil KSAP T.B. Simatupang, yang selama 4 hari mengikuti sepak terjang Divisi dari dekat, menunjuk Letkol. Sadikin menjabat Panglima Siliwangi. Keputusan darurat itu diambil karena memang ketiaadaan alat komunikasi dengan satuan lain dan demi mempertahankan keutuhan serta dinamika Siliwangi yang sedang bergerak.Tetapi Kepala Staf Angkatan perang ditempat lain yang berjarak kurang dari duaratus kilometer menunjuk Letkol. Abimanyu sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Hanya kepala dingin di waktu itu dan kesadaran memikul tugas luhur, diperoleh pemecahan simpatik dalam suasana keakuran, tanpa menimbulkan gejolak. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika keputusan semacam itu, yang menimbulkan “matahari kembar”, diambil dalam 2007. Mungkin aura politik akan lebih mewarnai persoalan daripada pemecahan yang mengedepankan kemashalatan dan mengatasi “the sense of crisis”.
Pernah penulis saya tanyakan kepad Jenderal Himawan Sutanto perihal status dan keadaan psikologis massa yang begitu besar bergerak,lelah,ketakutan,dan kekurangan materiil, walau tak ayal kaya dengan semangat. Bukannya tidak mungkin, dalam himpitan kesulitan itu mencuat jiwa yang mementingkan diri sendiri dengan menyampingkan jiwa keprajuritan dan keksatriaan. Barangkali harus ada penulis lain, mempergunakan genre yang tepat, yang harus menyoroti masalah tersebut Banyak anekdot perang, merupakan literatur kejiwaan yang menarik, bukan untuk menjadi bahan tertawaan, tetapi untuk memahami sifat hakiki manusia. Seorang Pramudya Ananta Toer, pernah menulis ”Mereka Yang Dilumpuhkan” (1949), mengisahkan drama manusia dalam kesempitan. Trisno Yuwono (1959) dalam serialnya di harian Pikiran Rakyat,Bandung, “Antara mesiu dan peluru” mengutarakan satire keadaan jaman awal kemerdekaan. Dari sini terbetik adanya manusia don quisote yang hanya memetik keuntungan bagi diri-sendiri dari kesedihan orang lain teman seperjalanan.
Saudara-saudara tentunya akan sepakat dengan penulis, kalau buku Himawan Sutanto ini sangat tepat untuk mememperoleh tempat di dalam perpustakaan militer maupun perpustakaan umum. Isinya mengandung bobot renungan jiwa dan kental dengan epos kepahlawan Siliwangi yang merupakan elemen pemikul, penghantar kita ke alam merdeka ini. Penulis akui bahwa benar masih terdapat kemelaratan yang menyatu dengan struktur serta ketidakadilan remunerasi dan perolehan hak, tetapi kita tidak boleh terhalang bayangan gelap itu menancapkan pandangan kita kedepan melihat sejarah heroikkemiliteran seperti yang dibeberkan oleh Himawan Sutanto.
Selamat kepada Jendral purnawirawan Himawan Sutanto atas penerbitan buku ini. Sebagai penutup ijinkan penulis menyampaikan permintaan agar pada penerbitan berikutmnya ditambahkan: peta yang lebih jelas dan informatif;kala perjalanan tracee tertentu (umpama berapa lama perjalanan dari perbatasan Jabar-Jateng memakan waktu untuk sampai Sumedang);usia pelaku terpenting (berapakah usia Simatupang, Nasution, Sadikin dan lain-lain); perbaikan penulisan referensi dan kesimpulan bahkan, kalau mungkin, analisa mengapa seorang Panglima sampai dapat tertawan oleh pihak musuh.
Bandung 19-12-2007; limapuluih sembilan tahun pasca Serangan Yogya.
Bambang Hidayat, lahir 18 september 1934, mantan Guru Besar Astronomi,ITB. Sekarang President Indonesian Academy of Sciences.,Tinggal di Bandung.

Kamis, 04 Oktober 2007

Rasa sayang-sayange dalam film Belanda ?

Lagu rasa sayang-sayange yang diributkan itu, sebelum ada di you tube sudah ada dalam film Belanda "Insulinde" . Film ini dibuat untuk menggambarkan Hindia Belandaantara tahun 1937 - 1940. Bagi yang bisa buka silahkan ke Blog saya : http://sejarahkita.blogspot.com/

Selasa, 02 Oktober 2007

Jalan Burma

Burma atau Myanmar sekarang dalam keadaan membara. Cepat atau lambat campur tangan internasional naga-naganya akan dimulai. Dimana-mana muncul demo memprotes kekejaman Junta Militer negeri ini. Apalagi setelah jatuh banyak korban, termasuk wartawan Jepang. Tapi pernahkan kita berfikir saat berlangsungnya perang dunia ke II, Burma amat berperan dalam menyalurkan logistik ke Cina yang bagian pantainya sudah diduduki Jepang ?. Jalur logistik berkelok-kelok ini dinamakan "Jalan Burma".Tapi jalur logistisk ini tidak berjalan lama karena dalam bulan maret 1942, Jepang berhasil menduduki Ranggoon dan Jalan Burma sebelah barat dikuasai. Hal ini berlangsung sampai tahun 1945, ketika Inggris berhasil mendesak Jepang kearah Timur. Selama jalan Burma dikuasai Jepang, logistik sekutu untuk Cina diangkut melalui jembatan udara dari India ke Kunming. Sungguh perjuangan yang amat berat.

Senin, 24 September 2007

Delegasi Indonesia pada Konperensi Meja Bundar di Den Haag

Delegasi Indonesia tiba di Den Haag pada awal Agustus 1949 untuk mengikuti Konperensi Meja Bundar. Mereka ditempatkan di Hotel Scheveningen. Sebelum berangkat, rombongan ini yang terdiri dari kelompok Republik Indonesia dan BFO (Permusyawaratan daerah Federal) menyanyikan Indonesia Raya. Tampak Bung Hatta selaku ketua delegasi, Sultan Hamid ketua BFO dan Anak Agung Gde Agung selaku anggota.

23 Agustus 1949 pembukaan sidang Meja Bundar

Bung Hatta selaku ketua delegasi dan rombongan berangkat dari Yogya pada tanggal 7 Agustus 1949 untuk menghadiri Konperensi Meja Bundar. Sidang-sidang Konerensinya sendiri dimulai pada tanggal 23 Agustus 1946 dan ditutup tanggal 2 November 1946. Meskipun banyak kendala yang dihadapi, persetujuan ahirnya dapat juga dicapai dimana dalam bulan Desember 1949 seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Irian Barat diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat.

Rabu, 19 September 2007

tidak kasat mata 19 September 2007

Tanggal 19 September 2007, sekitar jam 16.00 sore hari, kami menghadiri peringatan "Rapat Raksasa Ikada" yang kejadiannya pada 62 tahun yang lalu pada jam dan tempat yang sama. Bertindak sebagai Inspektur Upacara Bapak Sjahch Manaf, ketua DHD 45. Acara semarak yang dihadiri hampir 200 orang itu diawali dengan lagu-lagu mars yang dibawakan oleh Drum Band Pemadam Kebakaran. Kemudian lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama dan dilanjutkan mengheningkan cipta. Acara sambutan dari ketua yayasan dan pelaku. serta pembacaan doa. Ada beberapa spanduk yang dipasang menghadap kebeberapa jurusan disekeliling Monumen 19 September 1945. Salah satu spanduk (pada gambar diatas) dipasang menghadap hadirin. Tiba-tiba saya merasakan adanya citra lama tidak kasat mata. Terlihat ratusan ribu rakyat Jakarta menghadiri peristiwa tersebut pada 62 tahun yang lalu. Dalam hati saya berkata, rakyat Jakarta belum cukup semarak memperingati peristiwa heroik ini kalau cuma yang hadiri 200 orang saja. Semoga pada waktu mendatang lebih banyak lagi orang menghadiri acara peringatan ini.

Kamis, 13 September 2007

Rapat Raksasa 19 September 1945

Film ini merupakan sebagian footage dari film yang dibuat oleh Berita Film Indonesia (BFI) sebagai news reel pada tanggal 19 September 1945. BFI adalah perusahaan Film Negara sebelum PFN (Perusahaan Film Negara) yang mengambil oper Perusahaan Film Propaganda Jepang Nippon Eigasha. Angka 60 th RI dipojok kanan atas, ketika film ini dipublikasi dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke 60 (th 2005).

Minggu, 09 September 2007

janji Koiso

Pasca janji Koiso tanggal 9 September 1944

Tunggu film lain yang akan di upload

Sabtu, 08 September 2007

Peristiwa Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945

Kabinet pertama (Presidensiel) baru terbentuk pada tanggal 5 September 1945 dimana Bung Karno bertindak selaku perdana menteri dan sejumlah pemuka ditunjuk sebagai menteri dalam 12 Kementerian. Pemerintahan ini juga memiliki 4 orang menteri negara dan 4 pimpinan lembaga lainnnya yaitu, Ketua Mahkamah Agung, Jakasa Agung, Sekretaris Negara dan Juru bicara negar. Daerah Jakarta Raya dizaman Jepang berbentuk daerah khusus kota besar (Tokobetsu) dan Soewiryo menjabat wakil walikota. Pada saat kemerdekaan tahun 1945 Soewirjo mengambil alih jabatan walikota tersebut kemudian menunjuk Mr Wilopo sebagai wakilnya. Meskipun Pak Wirjo begelar Walikota namun dia lebih dikenal sebagai Bapak Rakyat Jakarta. Sebagai orang yang berkecimpung lama dalam Pemerintahan Kota aktifitas beliau amat khusus. Kantornya dibalai kota jalan Merdeka selatan Jakarta sekarang. Saat Proklamasi 17 Agustus 1945 dipegangsaan timur 56, Pak Wiryo bertindak selaku ketua panitia mempersiapkan dan menyelenggarakan acara tersebut. Ketua KNI Jakarta Raya adalah Mr Mohammad Roem. Setelah 17 Agustus 1945, berita Proklamasi dari Jakarta segera menyebar kseluruh tanah air melalui media elektronik (saat itu radio dan kontak-kontak telegrafis) dan cetak maupun dari mulut kemulut. Dengan sendirinya timbullah reaksi spontan yang amat bergelora. Akibatnya selama bulan Agustus dan September 1945 telah diadakan berbagai kegiatan massa seperti rapat-rapat regional wilayah maupun rapat-rapat lokal ditingkat kecamatan-kelurahan atau pada tempat-tempat berkumpul lainnya. Rapat wilayah kota Jakarta yang cukup besar terjadi pada ahir bulan Agustus 1945. Yaitu rapat rakyat dalam rangka menyambut berdirinya KNI yang bertempat dilapangan Ikada. Setelah rapat bubar, sebahagian massa mengadakan gerakan pawai berbaris mengelilingi kota dengan mengambil rute Ikada, Menteng Raya, Cikini dan Pegangsaan Timur. Dimuka rumah Pegangsaan Timur 56, Presiden Sukarno dan Ibu Fatmawati serta sejumlah menteri menyambut.Kegiatan rakyat seperti ini menarik perhatian pihak Jepang dan khawatir akan menimbulkan hal-hal yang berlawanan dengan dengan ketentuan penguasa Jepang sesuai instruksi sekutu. Maka pada tanggal 14 September 1945 dikeluarkan larangan untuk berkumpul lebih dari 5 orang. Ditambah larangan untuk melakukan kegiatan-kegiatan provokasi yang memunculkan demonstrasi melawan penguasa Jepang. Padahal saat itu sedang dipersiapkan sebuah rapat yang lebih besar dan sudah bersifat rapat raksasa yaitu Rapat Raksasa Ikada. Ide pertama rencana tersebut, datangnya dari para pemuda dan mahasiswa dalam organisasi Commite van Actie yang bermarkas di Menteng 31 Jakarta, untuk mengadakan peringatan 1 bulan Proklamasi pada tanggal 17 September 1945. Gagasan ini didukung oleh Pak Wirjo selaku walikota Jakarta Raya dan ketua KNI Jakarta Raya, Mr Mohammad Roem. Maka dengan serentak Pemuda-Mahasiswa menyelenggarakan persiapan teknis berbentuk panitia. Lebih lanjut kemudian mereka mengkomunikasikan rencana tersebut pada pimpinan rakyat tingkat kecamatan (saat itu bernama Jepang, Siku) maupun kelurahan. Akibatnya berita ini menyebar amat luas sampai keluar Jakarta. Tapi rencana ini tidak dapat segera terlaksana karena Pemerintah Pusat menolak menyetujuinya dengan pertimbangan kemungkinan terjadinya bentrokan fisik dengan tentara Jepang yang masih berkuasa yang seperti dikatakan diatas, sudah befungsi sebagai alat sekutu. Melihat situasi ini pihak panitia kemudian memundurkan acara menjadi tanggal 19 September 1945 dengan harapan Pemerintah mau menyetujuinya. Menurut Pemuda-Mahasiswa Rapat Raksasa ini amat penting. Karena meskipun gaung Kemerdekaan sudah menyebar kemana-mana sejak Proklamasi, namun rakyat belum melihat terjadinya perubahan-perubahan nyata ditanah air. Misalnya hak dan tanggung jawab Pemerintah belum nampak dalam aktifitas kenegaraan sehari-hari, apalagi kalau dikaitkan dengan amanat Proklamasi. Maka Rapat Rksasa amat perlu untuk menggambarkan bahwa NKRI memiliki legitimasi sosial-politik dengan cara mempertemukan langsung rakyat dan pemerintah. Dan dalam kesempatan ini diharapkan rakyat mendukung Pemerintah RI yang merdeka dan berdaulat. Mungkin Presidenpun akan memberikan komando-komandonya. Dalam perkembangan selanjutnya meskipun telah diadakan pertemuan antara panitia dan Pemerintah tetap tidak dicapai kata sepakat. Ahirnya pada tanggal 19 September 1945 tiba juga. Sejak pagi hari rakyat yang sudah yakin akan diadakan rapat raksasa tersebut sejak subuh pagi hari berduyun-duyun mendatangi lapangan ikada dan berkumpul membentuk kesatuan massa yang amat besar. Untuk menenangkan massa rakyat ini, pihak Pemuda-Mahasiswa mengajak bernyanyi. Atas usaha panitia, telah siap sistim pengeras suara yang cukup memadai, ambulance kalau-kalau diperlukan ada yang membutuhka pertolongan medis, dokumentasi yang dilaksanakan oleh juru foto dari kelompok ikatan jurnailistik profesional maupun amatir serta camera man Berita Film Indonesia (BFI). Pihak penguasa Jepang yang melihat derasnya arus rakyat yang menuju Ikada dan telah berkumpulnya massa yang besar, memanggil para penaggung jawab daerah Jakarta. Pak Wiryo dan Mr Roem mendatangi kantor Kempetai dan berusaha menjelaskan maksud dan tujuan dari berkumpulnya rakyat di Ikada dan mengatakan gerakan spontan ini hanya bisa diatasi oleh satu orang yaitu Presiden Soekarno sendiri. Tapi pihak Jepang tidak mau mengambil resiko dan mengirim satuan tentara yang dilengkapi kendaraan lapis baja. Penjagaan segera dilaksanakan oleh pasukan bersenjata dengan sangkur terhunus dilengkapi peluru tajam. Sementara kabinet Pemerintah RI tetap menolak. Bahkan ada berita kalau Presiden dan kabinetnya kalau perlu akan bubar. Mahasiswa segera mengambil inisiatip. Mereka mendatangi Presiden Soekarno pagi subuh tanggal 19 September 1945. Dijelaskan bahhwa Jepang tidak mungkin akan bertindak keras karena sesuai dengan tugas`sekutu, amat berbahaya bagi keselamatan kaum internira. Selain itu tentara Jepang akibat kalah perang telah kehilangan semanngat. Nampaknya Presiden mau diajak kompromi dan berjanji akan membicarakannya dalam rapat kabinet pagi hari. Pada tanggal 19 September 1945 pagi hari memang berlangsung rapat kabinet untuk membicarakan antara lain akan dibentuknya Bank Negara Indonesia. Rapat yang sedang berlangsung digedung ex Jawa Hokokai tidak kunjung selesai juga sampai waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Para Pemuda-Mahasiswa mendesak terus agar Presiden segera berangkat ke Ikada. Mereka mengatakan bahwa tidak akan bertanggung jawab kalau masa berbuat sesuatu diluar kontrol, padahal rakyat hanya menginginkan kedatangan para pemimpinya untuk menyampaikan amanat sebagai kelanjutan Proklamasi. Sebagai jaminan Pemuda-Mahasiswa akan menjaga keselamatan para anggota kabinet tersebut. Ahirnya Presiden Sukarno mengambil keputusan akan ke Ikada. Bagi para anggota kabinet lainnya yang berkeberatan dipersilahkan untuk tidak ikut. Namun nyatanya semua yang hadir dalam gedung ex Jawa Hokokai dengan kendaraan masing-masing juga menuju Ikada. Presiden Sukarno dikawal Pemuda-Mahasiswa dengan menggunakan mobil menuju lapangan Ikada dengan lebih dahulu mampir di Asrama Prapatan 10 Jakarta karena akan bertukar pakaian. Ketika Presiden tiba rombongannya ditahan oleh sejumlah perwira Jepang utusan dari Jenderal Mayor Nishimura yaitu yang dipimpin oleh Let.Kol Myamoto. Jelas ini bukan Kempetai dan menggambarkan Jepang memakai kebijaksanaan lunak. Dalam pembicaraan tersebut Presiden menjamin akan mampu mengendalikan massa meskipun nampaknya massa rakyat sudah siap bentrok fisisk. Hal ini dapat terlihat dimana rakyat yang mempersenjatai diri dengan bambu runcing, golok, tombak dan sebagainya. Ternyata Presiden hanya bebicara tidak lebih dari lima menit lamanya. Yang isinya : Percayalah rakyat kepada Pemerintah RI. Kalau saudara-saudara memang percaya kepada Pemerintah Republik yang akan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan itu, walaupun dada kami akan dirobek-robek, maka kami tetap akan mempertahankan Negara Republik Indonesia. Maka berilah kepercayaan itu kepada kami dengan cara tunduk kepada perintah-perintah dan tunduk kepada disiplin. Setelah pidato Presiden selesai rakyat yang sudah bertahan di Ikada selama lebih dari 10 jam ahirnya bubar dengan teratur tampa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Padahal kalau diperhitungkan massa yang besar tersebut sudah bersifat ancaman terjadinya konflik fisik yang mungkin dapat memunculkan pertumpahan darah yang tidak terkira. Nampaknya semua pihak puas. Rakyat puas atas kemunculan Presiden dan para menterinya. Demikian pula Pemerintah senang karena dapat memenuhi tuntutan pemuda mahasiswa. Lebih-lebih Jepang yang terhindar dari sikap serba salah. Rupanya mereka takut mendapat sangsi pihak sektu kalau tidak mampu mengatasi keadaan Jakarta dari keadaan yang teteram dan damai.

Sabtu, 04 Agustus 2007

Kaum Diaspora: Beda Osama dan Tan Malaka

Belasan teroris yang menghujat Amerika 11 September yl.itu berpendidikan tinggi dan bermotif politik dan ideologis kuat. Yang menarik, semuanya adalah perantau. Mereka pernah bermukim lama di negeri orang. Perantau cenderung membawa misi politik. Mereka membuat sejarah ketika berkelana, atau berkelana untuk membuat sejarah. Tan Malaka diangkat anak oleh seorang pejabat Belanda dan disekolahkan di Haarlem, terbuai oleh Marxisme pada 1920an, giat di Eropa, lalu keliling Asia. Dialah orang Indonesia pertama yang menguak sebuah bab kesejarahan untuk negeri lain: di Filipina dia memperkenalkan Marxisme. Che Guevara juga semacam itu: dia mengembara dari tanah airnya, Bolivia, untuk berrevolusi di Kuba dan Afrika. Ada pula yang membawa ide-ide chauvenis, otoriter, (semi) fasis, seperti Soepomo dan Ki Hajar Dewantara sekembali dari Belanda pada 1920an; juga Sarloth Sar (Pol Pot) dan Khieu Samphan, dua mahasiswa Kamboja, yang sepulang dari Perancis menjadi arsitek negara-teror Khmer Merah pada 1970-an. Pendeknya, perantauan, meski pun ragam, punya daya ilham, tekad dan dinamika tersendiri. Diaspora - istilah ini aslinya bagi kaum Yahudi ketika tersebar di Eropa - adalah fenomena sui generis - terikat ciri-ciri sejenis - masing-masing mengisyaratkan suatu momentum zaman. Tan Malaka, pemuda Minang itu, langlang buana dengan bekal kecerdasan, di Belanda dia menghayati perjuangan dan ideologi. Osama bin Ladin, playboy milyuner, hengkang dari Saudi, jadi pejuang Islamis dan teroris. Keduanya menerobos sejarah. Setengah abad setelah Tan Malaka, gerakan kiri yang tak kenal mandeg akhirnya mandeg di rantau. Sastrawan Sobron Aidit, menunjuk pada tragedi 1965-66, mengaku bahwa keberadaan diasporanya di Paris bersumber dari ''darah, derita dan semangat'' di tanah air. Osama, bekas pejuang melawan tentara Soviet, mungkin juga bisa menunjuk pada kisah darah, derita dan semangat yang serupa di Afghanistan 1980an. Darah dan semangat itu mengacu pada kancah, menjadi bagian dari suatu cause --tujuan perjuangan. Bagi Tan Malaka dan kerabat sezamannya, kancah itu adalah Hindia-Belanda dan cause-nya adalah kemerdekaan dan cita-cita sosialisme Indonesia (Asia). Pelukis Lekra, Basuki Resobowo, lewat sebuah lukisannya (1987), bercerita bahwa di tengah konflik antar kaum kiri, ada empat tokoh yang sejajar: Tan Malaka, Mohamad Hatta, Amir Syarifuddin dan D.N. Aidit; mereka ini patut dihormati, karena termasuk sejumlah pejuang yang “tak pernah menjual bangsa”; Basuki menuduh priyayi Jawa menjual rakyat kepada Tuan Belanda, Soekarno pernah melakukannya kepada Tuan Dai Nippon, Muso idem dito kepada Tuan Moskou dan Soeharto kepada Tuan Imperialis Barat. Bagi diaspora Indonesia, tanah air adalah sebuah kancah di mana keadilan ingin diperkenalkannya dengan macam-macam cara, konsep dan warna. Abdurrahman Wahid semasa merantau di Irak, Mesir, Yordania dan Eropa pada 1970an, merancang wacana buat Indonesia. Dia mempelajari agama-agama dunia, menghimpun berbagai aliran Islam dengan mendirikan sebuah perkumpulan Muslim (PPME) di Belanda, dan membuka jaringan dengan LSM-LSM dan partai-partai sosial-demokrat di Eropa. Jadi, ‘kancah’ bukanlah sekedar ajang geografis. Ketika sebuah cita-cita dilekatkan padanya, dia, kancah itu, bermakna suatu cause. Osama dan sejenisnya, dengan Yayasan Al-Qaida-nya, tidak memiliki cause yang jelas. Dia mengaku berjuang untuk Islam, nama agama itu disandangnya keluar masuk goa, bak menyandang jubah dan menjadikannya magnit politik untuk menggalang ummat. Dia bermimpi mewujudkan cita-cita kuno yang dijadikan jubahnya, tapi tak memberi batasan apa, mau pun target di mana, ‘jubah’ itu ingin diwujudkannya. Orang tak tahu dia berjuang untuk apa, siapa, dan negeri apa. Bahkan dia tak merasa perlu memberi acuan geografis atau negara mana pun. Cause-nya tak jelas. Dengan kata lain, perbedaan antara perantau Osama dan sejenisnya di satu pihak, dan perantau-pejuang sejenis Tan Malaka di lain pihak, bukan sekadar siapa ’teroris’ dan siapa ’pejuang’. Setiap protagonis akan berkata kepada lawannya bahwa ’teroris’-mu adalah ’pejuang’-ku. Tetapi, sejak Robespierre di zaman Revolusi Perancis sampai Noam Chomsky di tahun 1970an, kita tahu, teror adalah sebuah sarana dari kekuasaan negara. Terbukti, kekerasan politik yang terbesar dan efektif selalu bersumber dari negara (Holocaust-nya Hitler, Gulag-nya Stalin, Pulau Buru-nya Suharto). Sekarang Amerika meneror rakyat Afganistan dengan bom untuk memburu Osama dan Al-Qaida. Namun teror negara bisa berubah. Dia tak selalu monopoli negara, bisa juga jadi simbiose, perkawinan kepentingan, dari sejumlah unsur kekuasaan negara dan kelompok masyarakat. Contohnya Osama bin Ladin dan Al-Qaidanya. Dia jadi Islamis dan teroris global ketika dia bekerjasama dan disponsori oleh dinas intelejen militer Pakistan I.S.I, gerilya Taliban, unsur-unsur Saudi dan dinas intelejen Amerika CIA pada 1980-an, lalu berbalik melawan Amerika dan Saudi saat Saudi jadi pangkalan Amerika untuk menggempur Irak awal 1990-an. Osama, seperti Tan Malaka, adalah seorang Muslim yang giat membangun jaringan global. Bedanya, Osama sejak berhenti mabuk berubah jadi Islamis, lalu ketika pasukan Soviet terusir dari Afganistan pada 1989, Osama menganggap perjuangan itu sebagai ”kemenangan Islam yang pertama terhadap Barat”, setelah kalah selama berabad-abad. Sejak itu, baginya, ”kemenangan Islam” itu harus diglobalkan tanpa pandang bulu sikon dan konteks. Singkatnya, cause-nya serampangan. Sebaliknya, Tan Malaka, pada zaman yang berbeda, menjadi pejuang global ketika menginsyafi bahwa kebangkitan bangsa-bangsa Asia di pentas dunia awal 1900an. Dia seorang Muslim yang tidak fanatik, seorang kosmopolit yang menguasai bahasa-bahasa Eropa, Cina dan Tagalog, seorang Marxis yang memahami sejarah dan masyarakat, tapi, pertama-tama, dia seorang pejuang anti-imperialis global, yang membangun jaringan politik di Eropa, Shanghai, Bangkok, Manila dan di Jawa. Cause-nya gamblang. Bahkan pola Osama, dibandingkan dengan Khomeiny pun, amat berbeda dan amat terbelakang. Khomeiny punya target spesifik yaitu, tanah airnya, Iran; Osama tidak. Ketika Ayatullah Ruhollah Khomeiny meninggalkan pengasingannya di Perancis pada 1979, Iran sudah bergelora revolusi Islam-Iran yang dipimpin oleh kaum Mullah dan kelas-kelas menengah untuk melawan rezim Syah Pahlevi yang despotik. Jadi, Khomeiny tidak menyulut api di rantau lantas berharap otomatis terjadi kebakaran besar di kandang. Osama memutarbalik logika itu seolah-olah dia, atau siapa pun, bisa menyalakan revolusi di mana saja tanpa memerlukan suatu momentum revolusioner. Itu sebabnya, Osama dan gerakannya hanya akan membuat teror dan kerusuhan, tapi tak mampu memotori suatu perlawanan rakyat. Walhasil, bagi Osama dan sejenisnya, perbedaan paling bermakna adalah kancah itu tak membutuhkan batasan dan acuan geografis, jangka waktu, program sosial, atau apapun. Cause-nya tak jelas. Baginya, jubah itu bisa diwujudkan di mana saja dan kapan saja. Artinya, konsepnya anti-historis dan anti-sosiologis. Dan metode untuk mencapainya - jaringan teror - tak bersosok dan tak beridentitas. Jadi, apa pun persamaan antara berbagai tokoh rantauan yang historis, ada perbedaan hakiki antara tipe tokoh rantauan seperti Tan Malaka dan tipe Osama bin Ladin. Tan Malaka, bahkan juga Imam Khomeiny, berkelana dan membuat sejarah dengan wacana yang jelas, ajang sasaran yang jelas, tujuan yang jelas, bahkan seringkali juga dengan tahapan yang jelas. Anda boleh setuju atau tidak, tapi Tan Malaka dan sejenisnya punya cause dan route map yang dapat dibaca oleh akal budi. Sebaliknya, tokoh sejenis Osama bin Ladin tak punya cause, alias bermain serampangan, karena itu, per definisi, berbahaya. Ulah Osama cum suis dampaknya besar dan berbahaya bagi demokrasi dan pluralisme, tapi, celakanya, juga bisa dimanipulir menjadi dalih oleh penguasa negara mana pun untuk menekan hak-hak sipil warga.
Aboeprijadi Santoso
Sumber:Digubah dari ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis, edisi 28, Selasa 27 November 2001

Jumat, 03 Agustus 2007

Tan Malaka

Benarkah Tan Malaka ada di Lapangan Ikada pada tanggal 19 September 1945 ?. Saat itu banyak yang bersaksi demikian. Didalam rekaman film Berita Film Indonesia, tampak Soekarno berjalan berdampingan dengan seorang setengah baya, memakai celana buntung dan berbaju gelap. Dilengan kirinya ada pita lebar yang diikatkan (mungkin bendera merah putih ?). Dia juga memakai topi planters (tuan kebun) yang terbuat dari bahan prop yang dibungkus kain keki. Pada tanggal 30 Juli 2007 kemarin Harry Poeze meluncurkan bukunya yang ketiga tentang "Tan Malaka' bertempat di gedung pertemuan Menteng 31. Oleh karena itu tambah lagi kemisteriusan Tan Malaka. Apa betul eksekusi yang dilakukan pada tahun 1949 itu berdasarkan ulah Tan Malaka mau melawan Pemerintah ?. Pemerintah yang mana ?
Semoga sisi gelap itu lekas terungkapkan.

Sabtu, 14 Juli 2007

Gus Dur, Bung Tomo, Kartosuwiryo

Keterangan gambar : Jenderal Mayor TNI Abdul Kadir

OlehHimawan Soetanto

Saya agak terlambat membaca suratkabar harian Seputar Indonesia (Sindo) edisi 18 Juni 2007 yang memuat kolom Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul “Pelestarian Kenyataan Sejarah”. Saya mencari Sindo edisi itu setelah beberapa orang teman memberitahukan dan menanyakan apa komentar saya atas kolom yang isinya terdapat kenyataan sejarah yang keliru. Di sini saya tidak mengomentari pesan yang ingin disampaikan oleh “Guru Bangsa” dan mantan Presiden RI melalui kolomnya itu tentang perlakuan adil yang harus diberikan bagi semua warga negara dan kepada daerah daerah provinsi. Saya menjunjung harapan beliau untuk membangun sikap saling mempercayai satu sama lain dan mewariskannya bagi anak cucu kita. Saya mendukung pernyataan beliau bahwa “kearifan sejarah” adalah bagian dari pertumbuhan sebuah bangsa, dan kita perlu bicara dengan santai dan terbuka atas jalannya sejarah. Yang ingin saya komentari di sini adalah apa yang beliau percayai sebagai kenyataan sejarah bahwa Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dibentuk oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Presiden Sukarno pada 1947. Gus Dur mengatakan bahwa pembentukan itu digerakkan oleh gairah untuk mempertahankan RI. “Kearifan sejarah” Gus Dur tentang DI/TII ini pernah pula ditulisnya di sebuah koran lain beberapa waktu yang lalu, dan sanggahan terhadapnya juga telah ditulis oleh seorang sejarawan. Bagi saya pribadi, isu ini juga bukan hal baru, karena ketika menjadi Panglima Siliwangi, saya harus meluruskan pernyataan Bung Tomo (tokoh perjuangan RI yang pernah menjadi salah satu anggota pucuk pimpinan TNI) yang meyakini bahwa “proklamasi negara Islam Indonesia Kartosuwiryo” itu bukan bersumber pada suatu ideologi, tetapi hanya karena adanya salah paham dan sengketa senjata antara sesama bangsa. Negara Islam itu, menurut Bung Tomo, hanya merupakan alat berkelahi semata-mata.Dalam Himbauan yang diterbitkan oleh Bung Tomo pada 7 September 1977, yang ditujukan ke Jenderal Panggabean dan Laksamana Sudomo, dan juga dipublikasikan di media massa itu, disebutkan bahwa kedatangan kembali pasukan Siliwangi ke Jawa Barat setelah Clash II merupakan intervensi terhadap mission SM Kartosuwiryo dalam menghadapi Belanda. Mission tersebut, menurut Bung Tomo, diterima SMK langsung dari Jenderal Sudirman untuk melindungi kaum republikein. Bung Tomo mengatakan konflik Siliwangi dan DI/TII itu disebabkan oleh salah paham dan kurangnya komunikasi intensif.Cita-cita NII Sejak SemulaTerhadap kolom Gus Dur di Sindo 18 Juni itu pertama yang harus dikoreksi adalah bahwa Persetujuan Renville (ditandatangani 17 Januari 1948) bukan dilakukan oleh Sutan Syahrir, melainkan oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin. Juga tentang Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (selanjutnya disingkat SMK) sebagai asisten militer dari Pangsar Sudirman saya ragukan. Ayah saya adalah Mayjen TNI R Muhammad Mangoendiprodjo yang menjabat anggota kabinet Pangsar (1946–1948). Daripadanya saya tidak pernah dengar bahwa tokoh itu duduk di markas besar AP. SMK ketika itu dikenal sebagai anggota parlemen (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan merangkap komisaris Masyumi Jawa Barat. Ia memang penentang keras perundingan Linggajati (25 Maret 1947) dan Renville. Selebihnya, tanggapan saya ini kira-kira akan sama seperti yang saya tujukan kepada Bung Tomo tertanggal 9 November 1977 tersebut. Kalau benar pembentukan DI/TII itu untuk mempertahankan RI seperti kata Gus Dur (atau melindungi kaum republikein seperti kata Bung Tomo), maka jelas SMK membangkang mission yang diembannya itu. Karena dalam kurun waktu antara Renville, Januari 1948 dan kegagalannya, Desember 1948 (Agresi Belanda ke-II), sampai pada KMB dan seterusnya, SMK konsisten dengan cita-cita negara Islamnya. Harap diingat, ketika 7 Agustus 1949 Negara Islam Indonesia (NII) diproklamasikan, sebenarnya pemerintah RI Yogya telah dipulihkan dan Soekarno-Hatta sudah kembali sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Serangkaian konferensi, mulai di Cisayong (10 Februari 1948), Cipeundeuy (2 Maret 1948), Cijoho (1 Mei 1948), SMK yang dijadikan imam umat Islam Indonesia, sudah mengusahakan pembentukan NII, memerintah pengumpulan senjata, membatalkan semua perundingan dengan Belanda, membentuk TII yang berintikan laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pada 27 Agustus 1948 diresmikan Kanun Azasi (UUD) yang didalamnya dinyatakan bahwa NII berbentuk “Jumhuriah”. Sehari setelah Belanda melancarkan agresinya yang kedua dan langsung menduduki Yogyakarta (19 Desember 1948), SMK mengumumkan “jihad fisabilillah” terhadap Belanda. Tapi bersamaan dengan itu juga menyatakan pasukan TNI/Siliwangi sebagai pasukan liar yang harus ditumpas.Berlanjut sampai Belasan TahunKonflik antara TNI dan DI/TII bukanlah soal salah paham atau kurang intensifnya komunikasi. Ketika Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat, mereka menemui daerah Priangan sudah menjadi guerrilla invested area DI/TII. Sementara itu, Siliwangi harus membangun wilayah perlawanan (wehrkreise) TNI di tempat yang sama.
Sebagai sesama pejuang, Siliwangi berusaha menjalin kerja sama dengan DI/TII, perselisihan antarkeduanya ditunda sampai urusan dengan Belanda selesai. Kontak-kontak dilakukan oleh utusan divisi. Ada pula oleh utusan brigade atau batalyon.

Namun mendapat jawaban bahwa TNI di Jawa Barat harus di bawah komando TII. Mayor TNI Utarya, yang diutus divisi, dibunuh karena menolak mengakui kedaulatan DI/TII. Utusan lainnya, Lettu Aang Kunaefi, mendengar langsung jawaban SMK bahwa ia “tidak mengenal RI dan TNI, yang dikenal hanya Darul Islam dan tentara Belanda”.Setelah pengakuan kedaulatan dan permasalahan Indonesia dengan Belanda selesai, TNI memerangi DI/TII yang telah dinyatakan sebagai pemberontak operasi keamanan di Jawa Barat. Peperangan ini baru bisa diselesaikan setelah SKM menyerah pada 4 Juni 1962. Selama 13 tahun pemerintah RI dan TNI harus berhadapan dengan DI/TII yang ingin mendirikan NII sebagai pengganti NKRI. Kita ingin tidak terjadi lagi intra-state conflict di Indonesia. Kalau ada perbenturan ideologi atau kepentingan di antara kita, apakah itu antara pusat dan daerah, antargolongan, atau karena ketidakadilan pembagian sumber daya, jangan lagi sampai diselesaikan dengan kekerasan senjata. Siliwangi sejak semula tidak ingin perbenturan kepentingan di antara anak negeri diselesaikan dengan kekerasan. Pendekatan baik-baik dilakukan terhadap DI/TII, termasuk ketika melancarkan operasi militernya, yang mengasihi rakyat, tidak menyakiti musuh yang tertawan, dan menghormati keluarga pihak lawan.
Tapi bagaimana pun kita harus arif dan menyadari, bagaimana mungkin DI/TII dibentuk oleh Panglima Besar Sudirman dan Presiden Sukarno pada 1947 untuk mempertahankan RI dan melindungi kaum republikein. Faktanya, 1947 persetujuan Renville belum terjadi, berarti ketika itu Divisi Siliwangi masih di Jawa Barat. Faktanya, SMK sudah sejak semula ingin mendirikan NII, menggantikan NKRI. Penulis adalah purnawirawan Pati TNI, pernah memimpin kesatuan TNI memerangi DI/TII di Jawa Barat. Kini sedang menyelesaikan program pasca sarjana (S-3) sejarah di UI.

Rabu, 06 Juni 2007

De politionele acties


Vlak na het einde van de Tweede Wereldoorlog namen Nederlanders opnieuw de wapens op. Met twee bloedige 'politionele acties' in Nederlands-Indië probeerde Nederland de onafhankelijkheid van haar kolonie tegen te houden. Het verliezen van de kolonie Nederlands-Indië was voor veel Nederlanders een onaanvaardbare gedachte. 'Indië verloren, rampspoed geboren', was de leuze. Nederland kon zich daarom niet zomaar neerleggen bij de onafhankelijkheid van Indonesië, die in 1945, vlak na het einde van de Tweede Wereldoorlog was uitgeroepen. Tegen de zin van bijna de hele wereld werd een leger van honderdduizend man naar de opstandige kolonie gestuurd, om de pas uitgeroepen Republiek Indonesië hardhandig aan te pakken. In juli 1947 begon Nederland de eerste militaire actie tegen de Republiek, onder de naam 'Operatie Produkt'. Het doel was om economisch belangrijke gebieden op Java en Sumatra op de opstandelingen te veroveren. Dat lukte niet direct. Na een wapenstilstand besloot Nederland in december 1948 met een tweede politionele actie de Republiek definitief uit te schakelen. Nederland noemde deze acties 'politioneel' en niet 'militair', omdat het vond dat het leger optrad als een politiemacht die de de rust en orde op Nederlands grondgebied terug bracht. Daar dacht de rest van de wereld anders over. Nederland had de twijfelachtige eer om als een van eerste gevallen in de Veiligheidsraad van de pas opgerichte Verenigde Naties te worden besproken. Ook de duizenden Nederlandse en honderdduizend Indonesische slachtoffers bewezen dat hier geen sprake was van zomaar en politieoptreden. Het ging hard tegen hard, met aan beide zijden excessen zoals martelingen, executies en het platbranden van dorpen. Uiteindelijk moest Nederland onder druk van de VN en de Verenigde Staten het onafwendbare erkennen. In 1949 werd de onafhankelijke Republiek Indonesië een feit.

SEJARAH HARI LAHIRNYA KOTA JAKARTA




Oleh A.Heuken (Dalam rangka menyambut ultah Jakarta ke 470)
Awal mula berdirinya beberapa kerajaan dan kota besar di bumi ini diliputi mitos. Kekosongan data sejarah diisi dengan cerita legendaris. Demikian halnya dengan Roma, yang katanya didirikan oleh Romulus dan Remus, kakak-beradik yang dibesarkan oleh seekor serigala. Demikian juga diceritakan tentang negeri Matahari Terbit yang dikaitkan dengan keturunan dewi matahari, yang sampai kini menghiasi bendera kebangsaan Jepang. Menimbulkan polemik
Rupanya mitos semacam ini meliputi pula asal usul atau lahirnya Kota Jakarta, ibu kota tertua dari semua negara di Asia Tenggara, walaupun belum begitu tua jika dibandingkan dengan kota seperti Kyoto dan Thang-Long atau Hanoi umpamanya. Kalau demikian, atas dasar apa warga Jakarta merayakan hari jadinya yang ke-470 pada tahun ini? Sejarawan Abdurrachman Suryomomihardjo mengomentari keputusan Walikota Jakarta Sudiro (1953 - 1958) tentang hari jadi Jakarta sebagai "kemenangan Sudiro" yang berlandaskan "kemenangan Fatahillah" yang pastinya tidak kita ketahui. Pada tahun '50-an perdebatan tentang asal usul Jakarta memuncak dalam perang pena dua mahaguru, yaitu Dr. Soekanto dan Dr. Hussein Djajadiningrat. Polemik ini pun sudah menjadi sejarah yang dilupakan oleh sebagian besar penghuni Jakarta, yang dibuai terus dengan karangan-karangan resmi yang menampakkan asal usul ibu kota dengan begitu gamblang. Namun belum begitu lama Dr. Slametmulyana masih berpegang pada tesis bahwa nama Ja(ya)karta diturunkan dari nama adipatinya yang ketiga, yaitu Pangeran Jayawikarta, yang membela kotanya terhadap J.P. Coen, pendiri Batavia (1619), namun dikalahkan oleh saingannya dari Banten. Di balik berbagai teori yang kurang pasti ini apa yang pasti? Apa yang terbukti? Pertama, dokumen-dokumen tertua menyebutkan suatu permukiman di mulut Ciliwung bukan dengan nama Ja(ya)karta, melainkan Sunda Calapa. Dokumen tertua yang menyebut nama ini adalah Summa Oriental karangan Tome Pires, yang memuat laporan kunjungannya dari tahun 1512/15. Apakah Ma Huan, penulis laporan pelayaran armada Laksamana Zheng-Ho, yang kapal-kapalnya mengunjungi Pantai Ancol pada awal abad XV, mengenal Chia liu-pa (atau Calapa) belum dapat dipastikan kebenarannya. Direbut pasukan Cirebon Sebutan Sunda Calapa dipakai terus sampai pertengahan abad XVI (misalnya oleh A. Nunez, Lyro do pesos Ymdia, 1554) dan dimuat pada peta-peta Asia sampai awal abad XVII. Nama Ja(ya)karta untuk pertama kalinya disebutkan dalam suatu dokumen tertulis, yang berasal dari sekitar tahun 1553, yakni dalam karangan sejarawan Barros, yang berjudul Da Asia: Pulau Sunda adalah negeri yang di pedalaman lebih bergunung-gunung daripada Jawa dan mempunyai enam pelabuhan terkemuka, (Cimanuk) Chiamo di ujung pulau ini, Xacatara dengan nama lain (Karawang) Caravam, (Xacatara por outro nome Caravam), (Tangerang) Tangaram, (Cigede) Cheguide, (Pontang) Pontang dan (Banten) Bintam. Inilah tempat-tempat yang ramai lalu lintas akibat perniagaan di Jawa seperti pula di Malaka dan Sumatra .... (Barros, Da Asia decada IV, liv. 1, Cap XII, hlm. 77) . Jao de Barros (1496 - 1570) bekerja di Casa da India (1532 -1568) di Lisabon, tempat segala laporan dari Asia diterima dan diarsipkan. Meskipun karangannya tentang Asia Tenggara dari tahun 1553 menunjukkan keadaan yang sedikit lebih tua, kita tidak tahu persisnya dari tahun berapa. Karena itu nama Ja(ya)karta (dalam segala ejaannya) tidak terdokumentasi sebelum tahun 1550. Dokumen Indonesia pertama yang memakai sebutan "Jakarta" tidak mungkin berasal dari sebelum tahun 1602. Dokumen ini merupakan suatu "piagam" dari Banten, yang ditemukan van der Tuuk (1870). Meski demikian, nama Sunda Calapa tetap dipergunakan juga sampai akhir abad XVI, bahkan dalam berita pelayaran Belanda dari akhir abad itu. Walaupun tidak dapat diketahui dari sumber sezaman, kapan pelabuhan di mulut S. Ciliwung itu berganti nama dan mungkin juga penduduknya, bisa dipastikan dari berbagai sumber Portugis (misalnya J. de Barros, F.L. Castaheda, G. Correa), yaitu pada akhir tahun 1526 atau awal 1527. Sunda Calapa direbut dari kekuasaan kerajaan Hindu Sunda oleh pasukan Islam dari Cirebon. Awak kapal Portugis yang dipimpin D. de Coelho dan terdampar di Pantai Sunda Calapa dibunuh dan dipukul mundur oleh penguasa baru . Maka, 470 tahun yang lalu pasti terjadi perubahan besar di daerah yang sekarang disebut "Kota". Sunda Calapa (sampai 1526/27) maupun Jayakarta (1527 - 1619) terletak di sebelah selatan suatu garis yang dibentuk oleh rel kereta api dan jalan tol baru sedikit di sebelah utara Hotel Omni Batavia sekarang. Maka pasukan Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati sebagai sekutu (atau bawahan?) Kesultanan Demak mendarat di pantai yang terbentang kurang lebih pada garis tersebut. Mungkin juga ia menyerang Sunda Calapa melewati daratan dari arah Marunda. Hal ini agak sulit, karena pada zaman itu daerah antara Marunda dan Kota masih penuh hutan lebat serta rawa-rawa yang banyak buayanya. Mitos, legenda, atau hanya cerita? Masalah siapa yang memimpin tentara koalisi Cirebon-Demak-Banten melawan raja Pajajaran belum terpecahkan dengan tuntas. Rupanya hal ini tidak mungkin terungkap, karena dokumen sejarah dari masa itu tidak ada, baik yang berbentuk tulisan maupun benda sejarah. Nilai sejarah cerita Purwaka Tjaruban Nagari, yang pengarangnya menyebut diri Pangeran Aria Tjarbon masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Naskah dari sekitar tahun 1720 ini telah beredar sejak awal abad XIX di luar lingkungan Keraton Cirebon. Belum ada edisi kritis dari naskah penting ini, apalagi mengenai kitab sumbernya, yang disebutkan pada halaman terakhir yakni naskah Negarakertabumi. Purwaka Tjaruban Nagari bukan dokumen dari zaman Jakarta didirikan, maka pengetahuan tentang sumbernya penting. Selain itu naskah ini penuh cerita ajaib dan bagian-bagian yang memperlihatkan kepentingan pihak Cirebon pada waktu itu. Atas dasar yang secara halus dapat disebut ketidakpastian itu dibangun suatu sejarah tentang tokoh "pendiri" Jakarta, yaitu Fatahillah. Keberadaan dan peran penting seseorang yang muncul dalam aneka sumber sejarah sebagai Tagaril, Fadilah Khan, Falatehan atau Fatahillah, tak dapat disangsikan. Namun identitas dan kegiatan tokoh dari Pasai (Sumatra Utara) itu belum jelas betul. Karangan dan seminar sejarawan Indonesia dan luar negeri masih tetap bergumul tentang siapakah Fatahillah, orang Gujarat keturunan Arab itu. Mengingat keadaan sumber-sumber sejarah yang sulit ditemukan, bahkan harus dikatakan hampir nihil, maka pada awal berdirinya Kota yang dinamai Jayakarta itu akan tetap diliputi kabut, sehingga mitos dengan leluasa dapat berkembang, dipelihara, bahkan diresmikan. Nasib ini memang bukan hanya khas Jakarta. Memang sejarah yang kritis kadang kala menyajikan kejadian historis sebagai peristiwa yang bercorak agak biasa, sedangkan mitos, legenda, dan cerita dengan leluasa dapat membakar imajinasi dan semangat. Tetapi ini bukan maksud sejarah yang ingin mengenal kenyataan dan menafsirkannya. Apakah menginjak abad XXI ini orang akan puas dengan mitos ataukah mereka ingin mengetahui kebenaran? Kapankah akan terbit sejarah Jakarta yang kritis? Apakah sudah waktunya? Sudah mungkinkah dengan mengingat nasib aneka buku kritis yang muncul akhir-akhir ini? Jakarta yang merayakan hari ulang tahun ke-470 sepantasnya memiliki kajian sejarahnya, yang realistis serta ilmiah. Walaupun masa awal dan sejarah berikutnya akan tampak agak biasa, sejarah seperti ini diperlukan untuk membangun suatu rasa memiliki warga kota pada pergantian abad ini yang tidak lama lagi akan berlangsung. Mitos dan legenda tetap berfungsi, namun tidak memadai sebagai landasan pembangunan masa depan suatu masyarakat yang peduli pada nasib kotanya dan peninggalan-peninggalan sejarahnya.
Komentar : Kenapa kita tidak mau menerima Jakarta sebagai kelanjutan berdirinya kota Batavia ?.