Dahulu ada Gubernur yang memperkenalkan BMW (Bersih Manusiawi dan Wibawa). Kota tua kini dalam perbaikan dan persiapan sebagai kota turis sejarah. Kota ini bukan hanya warisan sejarah, tapi bisa jadi modal untuk mengelola aset turisme yang amat menguntungkan sekali dimasa depan. Bagaimana caranya ?. Pertama jangan merubah citra. Membangun hal yang baru adalah kepalsuan. Lebih penting pelestarian dan menata kembali sesuai asli. Hindari pengeluaran biaya besar serta melibatkan para penghuni atau pemilik aset. Kebersihan dan keamanan adalah tindakan nomor satu. Baru seteah itu pengorganisasian dan pengelolaan secara profesional. Atribut lama, jangan sampai dinodai retorika kepahlawanan yang tidak perlu dan salah kaprah. Mungkin bukan hal aneh kalau justru pihak-pihak terkait pada masa lalu membuka kios mereka. Mungkinkah kita menikmati kembali daerah kota tua seperti gambar diatas ?.Senin, 16 April 2007
Kota tua mestinya bukan hanya kenangan
Dahulu ada Gubernur yang memperkenalkan BMW (Bersih Manusiawi dan Wibawa). Kota tua kini dalam perbaikan dan persiapan sebagai kota turis sejarah. Kota ini bukan hanya warisan sejarah, tapi bisa jadi modal untuk mengelola aset turisme yang amat menguntungkan sekali dimasa depan. Bagaimana caranya ?. Pertama jangan merubah citra. Membangun hal yang baru adalah kepalsuan. Lebih penting pelestarian dan menata kembali sesuai asli. Hindari pengeluaran biaya besar serta melibatkan para penghuni atau pemilik aset. Kebersihan dan keamanan adalah tindakan nomor satu. Baru seteah itu pengorganisasian dan pengelolaan secara profesional. Atribut lama, jangan sampai dinodai retorika kepahlawanan yang tidak perlu dan salah kaprah. Mungkin bukan hal aneh kalau justru pihak-pihak terkait pada masa lalu membuka kios mereka. Mungkinkah kita menikmati kembali daerah kota tua seperti gambar diatas ?.The first Indonesian boat people
Among the first were a group of Indonesians who came on their own - the first 'boat people'. In March 1942 a group of 67 Javanese men, women and children who had been living in Sumatra attempted to sail back to Java. Trained fitters and turners, the men were required to report for work at the Dutch arsenal in the town of Bandung. However, the speed of the Japanese invasion made this impossible, and the group turned south. After a hazardous journey they reached Fremantle, in Western Australia. There they were told to continue to Port Melbourne, arriving in April. As their ship docked, local Melburnians were treated to a sight they had never seen before. The Javanese were gathered on deck, wearing traditional dress: colourful sarongs, sashes and long lace blouses for the women, some of them suckling babies; sarongs, black jackets and caps and ceremonial kris for the men. John Guthrie, a young boy living at Port Melbourne at the time, recalls the excitement as word spread and he and his friends raced to the dock. Of particular interest was the fact that these were 'brown' people, whom the boys had never seen before. Dutch officials met the ship, but were at a loss to know what to do with these unexpected arrivals. Finally they asked the advice of Rev John Freeman, minister of the Port Melbourne Methodist Church, who agreed to help. With permission from the church authorities the church hall was turned into home for the refugees for the next three years. Small rooms off the main hall were allotted to family groups. Single men used the hall itself. Dutch authorities and the Red Cross provided furniture, bedding, clothing and equipment. A communal kitchen was set up.Aided by some of the local community, the Freeman family helped the refugees settle in to daily life in their temporary home. A kindergarten was established, attended by both Indonesian and Australian children. The older children attended the Nott Street primary school, where they soon learned English and excelled at their studies. Mrs Freeman took particular care of the women, taking them shopping, arranging hospitalisation when babies were born and generally looking after their welfare. A journalist from the newspaper The Argus, who visited the hall commented: 'In this little corner of Port Melbourne, East has met West'. The men, meanwhile, had much-needed technical skills. Rev Freeman had no trouble finding work for them in the government aircraft factory at Fishermen's Bend. The Indonesians made many friendships in the Port Melbourne community. John Guthrie and other young men took the opportunity to explore a new culture. They even learned to speak 'Malay' (Indonesian). In return, they took their new friends to Australian Rules football matches, ice-skating and the theatre. These friendships later led Guthrie to take part in demonstrations and marches in support of Indonesian independence. They were held in Melbourne after the world learned of Sukarno's 'proklamasi' of 17 August 1945. Jan Lingard (jan.lingard@asia.usyd.edu.au)
Selasa, 03 April 2007
Wilayah RI Dicaplok Malaysia ?
Jati Diri Jawa Pos, Jumat (30/3/07), berpendapat bahwa salah satu masalah krusial yang menyangkut kedaulatan RI adalah soal perbatasan dengan negara tetangga, khususnya Malaysia. Ketidakpedulian kita merawat Pulau Sipadan dan Ligitan yang divonis Mahkamah Internasional (MI) menjadi milik Malaysia pada 2004 harus menjadi "guru" yang menyadarkan para pemimpin nasional.Karena itu, hentikan saja niat interpelasi anggota DPR kepada pemerintah lantaran pemerintah mendukung DK PBB yang akan memberikan sanksi kepada Iran tentang program nuklirnya. Lebih baik energi dan kepedulian wakil-wakil rakyat diberikan kepada masalah-masalah domestik seperti ancaman pencaplokan wilayah perbatasan RI oleh negara tetangga.Pendapat Jawa Pos itu menjadi relevan lagi karena saat ini memang ada indikasi pencaplokan sebagian daerah perbatasan di Kalimantan Timur (Kaltim) oleh Malaysia. Sekitar 1,5 kilometer perbatasan Kaltim, khususnya di Kutai Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, terindikasi telah dicaplok menjadi wilayah Malaysia.Itu benar-benar preseden buruk yang memalukan. Lagi-lagi, masalahnya muncul karena kita kurang peduli dan kurang serius menjaga serta merawat daerah perbatasan. Sama dengan ketika kita kehilangan Sipadan dan Ligitan.Kasus-kasus seperti itu tidak lagi hanya menyalahkan negara lain. Tidak bisa hanya menyalahkan Malaysia. Kita harus bertanggung jawab atas daerah tumpah darah bangsa dan tanah air RI. Belum jelas benar, bagaimana dan mengapa Malaysia sampai bisa mencaplok wilayah perbatasan RI di Kaltim sampai sejauh 1,5 kilometer. Tetapi, tampaknya, Malaysia tidak bisa dituduh sebagai pihak yang ekspansionis.Sangat mungkin kita sendiri yang tidak telaten, tidak teliti, dan lengah dalam menjaga tanah air bangsa Indonesia di daerah perbatasan. Misalnya, lengah menjaga rambu-rambu tapal batas. Membiarkan tanda atau rambu-rambu rusak atau hilang, sehingga Malaysia bebas menentukan wilayahnya menurut versi pemerintahnya. Kalaupun Malaysia terbukti bersalah -memang mencaplok sebagian wilayah Kaltim-, kita juga ikut bertanggung jawab. Mengapa? Sebab, kita membiarkan Malaysia sampai bisa mencaplok wilayah perbatasan.Berarti, aparat penjaga perbatasan kecolongan. Mereka tidak tangkas menjalankan tugas, sehingga Malaysia sampai bisa mencaplok perbatasan RI.Karena itu, wakil-wakil rakyat di parlemen harus segera datang dan melihat sendiri daerah perbatasan di Kutai Timur yang dicaplok Malaysia. Anggota DPR harus bisa membuktikan apa sebenarnya yang terjadi di daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut.Mereka perlu segera membuat rekomendasi apa yang seharusnya segera dilakukan pemerintah RI untuk merebut kembali wilayah perbatasan yang dicaplok Malaysia itu. Menata wilayah perbatasan, merawat, dan menjaganya jauh lebih penting daripada ramai-ramai mempersoalkan dukungan RI kepada DK PBB untuk memberikan sanksi untuk Iran tentang program nuklirnya.Sinyalemen Jawa Pos diatas, rupanya menggelitik perasaan bangsa Indonesia. Mungkinkah kita memiliki rasa bernegara yang pantang dijajah oleh siapapun sebahagian atau secara menyeluruh ?. Persaan itu rupanya paling optimal cuma saat Republik Indonesia baru Merdeka, kira-kira pada bulan September 1945. Foto diatas menggambarkan. Dimana-mana ada coretan yang menentang invasi kekuatan asing. Pada Trem Jatinegara-Kota ini tertulis kata-kata "Better to the Hell than tobe Clonize again" Mungkin kita perlu meniru Jati Diri Bangsa Indonesia saat itu.
Sabtu, 31 Maret 2007
25 Maret 1947, 60 th yang lalu dokumen Linggajati ditanda tangani
Senin, 26 Maret 2007
Ibu Nelly Adam Malik telah tiada

Ibu Nelly Adam Malik telah tiada. Istri Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga, Ny Nelly Adam Malik, Minggu (25/3) pukul 22.20, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan. Ny Nelly sempat dirawat di RS MMC sejak Jumat (23/3) akibat serangan stroke. Sejak Senin pagi hari, rumah duka di Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat, dibanjiri pelayat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla hadir di rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir. Hadir pula antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, mantan Presiden BJ Habibie, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Ny Nelly Adam Malik lahir di Jakarta, 15 Mei 1925, putri kedua Datuk Ilyas Gelar Rajo Mara dan Siti Zuleiha. Ia meninggalkan seorang anak laki-laki, Otto Malik, dua anak perempuan, Antarini Malik dan Budisita Malik, serta 17 cucu. Ny Nelly dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer yang dipimpin Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Bachtiar mengungkapkan, Nelly Adam Malik dikenal sebagai sosok yang memegang teguh prinsip dan setia kepada negara. Bersama Adam Malik, dia turut mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaannya. Menurut Antarini Malik, sejak masuk RS kondisi kesehatan almarhumah terus menurun akibat lanjut usia. Ia pun menderita penurunan fungsi otot jantung. "Ibu sudah lama tak aktif di berbagai kegiatan sosial," katanya. Sejumlah organisasi sosial pernah dirintis Ny Nelly bersama sejumlah istri pejabat lainnya. Pemegang penghargaan Bintang Mahaputra itu pernah menjadi Ketua Dewan Kerajinan Nasional pada 1980-1983. Ia juga ikut mendirikan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia bersama Ny Tien Soeharto pada 1979. Selain itu, Ny Nelly pernah menjadi anggota DPR pada 1971-1978 dan menjadi Ketua Yayasan Adam Malik yang mengelola Museum Adam Malik. Menurut Otto Malik, ibundanya setia mendampingi ayahnya, Adam Malik, pada 1942-1984, dalam suka dan duka. Dari Berita Kompas 27 Maret 2007
Sabtu, 10 Maret 2007
Prof.Koesnadi telah tiada

Dalam peristiwa kecelakaan terbakarnya pesawat Garuda GA 200 di lapangan terbang Adisucipto Yogyakarta tanggal 7 Maret 2007 jam 7.00 pagi, telah meninggal dunia, teman baik saya Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau lahir tanggal 9 Desember 1926 di Manon Jaya Tasikmalaya, jadi pada bulan Desember tahun kemarin, beliau baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 80. Dizaman Jepang dan awal Revolusi, beliau menamatkan Sekolah Lanjutan Atasnya yang bernama SMT (Sekolah Menengah Tinggi) bertempat dibekas gedung Kanisius. Tahun 50-an, ikut kuliah di Universitas Gajah Mada, Fakultas Hukum dan berhasil lulus pada tahun 1964. Predikat Doktor dibidang Sosiologi didapat dari Rijks Universiteit Leiden, ilmu lingkungan dari IPB dan UNPAD. Sejumlah jabatan pernah diembannya. Mulai sebagai dosen UGM sampai menjabat Rektor. Juga pernah menjabat Direktur Pendidikan Tinggi Dep.Dik.Bud, atase kebudayaan pada kedutaan Besar Indonesia di Den Haag Belanda, Sekretaris menteri Negara Lingkungan Hidup. Sampai akhir hayatnya beliau tetap mengajar diberbagai Universitas di Yogyakarta maupun di Jakarta. Itulah sebabnya naik pesawat terbang Jakarta-Yogyakarta bagaikan bagian dari kehidupan mingguannya.
Rasanya masih seperti bertemu kemarin, padahal pertemuannya saya dengan beliau yang terahir, terjadi pada acara Seminar di Hotel Milenium tahun 2006. Saat itu beliau menyampaikan makalahnya soal PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) pada tahun 50-an. Dimana saat itu Pemerintah belum dapat mencukupi tenaga guru SMA. Maka atas usaha Pak Kusnadi dan beberapa Mahasiswa UGM, diberangkatkanlah sejumlah mahasiswa ke seluruh Indonesia sebagai pengajar diluar Jawa. pak Kusnadi sendiri ikut mengajar di SMA di Kupang, NTT. Tidak banyak yang tahu bahwa, Pak Kusnadi adalah anggota PT.TKR (Polisi Tentara Keaman rakyat) pada zaman Revolusi, dengan pangkat letnan. Wilayah penugasannya adalah Sukabumi-Cianjur. Pada suatu hari, beliau ditugaskan Let.Kol Alex Kawilarang untuk mengantar 2 karung emas permata hasi rampasan Jepang yang sempat dikuburkan di kebun karet. Maka setelah harta itu disita pihak TKR, kepada Pak Kusnadi dan seorang temannya diperintahkan untuk diantarkan kepada Kementerian Keuangan di Yogyakarta. Namun ketika tiba di Yogya, kembali dua karung barang berharga itu harus dibawa ke Purworejo, tempat kementerian itu berada. Selama Revolusi, Pak kusnadi bergabung dengan TP (Tentara Pelajar) Yogya. Diantara teman-temannya adalah Radius Prawiro dan Nugroho Notosutanto. Setelah tahun 1948, beliau ditugaskan di Wherkreise didaerah Pekalongan - Tegal - Brebes. Pada suatu hari terjadi serangan Belanda secara mendadak. Pak Kusnadi berlari lewat pintu belakang, tapi sungguh kaget karena disitu sudah muncul sejumlah tentara Belanda. Maka dia berbalik arah untu melarikan diri kearah lain. Sungguh sangat ajaib, hanya berjarak 5 meter, tapi si Belanda tidak menembaknya. Salah satu kemungkian karena melihat tubuhnya yang kecil yang menggunakan celana pendek sehingga dikira anak kecil. Padahal sebagai perwira, Pak Kusnadi pernah diminta untuk menjabat Camat, menggantikan Camat lama yang didaulat rakyat. Pak Kusnadi adalah anggota Veteran yang mendapat "Bintang Gerilya" karena jasanya dalam perjuangan Perang kemerdekaan. Selamat jalan Prof...Jasamu tidak akan kami lupakan.
Senin, 12 Februari 2007
Sabtu, 10 Februari 2007
Sobron Aidit telah tiada
Ada berita dari Paris, bahwa pada jam 9.00 pagi waktu setempat hari Sabtu tanggal 10 Februari 2007, Sobron Aidit telah meninggal dunia. Bagi pecinta komunikasi internet, nama beliau tidak asing. Dengan rajinnya dia menulis apa saja. Mulai dari Puisi, reportase peristiwa, tanggapan sosial, politik, budaya sampai tek-tek bengek. Tapi yang terbesar perhatiannya adalah pada dunia sastra. Khabarnya terahir kali beliau ke Indonesia beberapa bulan yang lalu, mungkin untuk melihat tanah tumpah darahnya. Tentu saja ke Belitung melihat kampung halaman, tempat pada masa yang lalu bersama keluarga besar Aidit masih sering berkumpul. Tampak Sobron menulis terbesar karena dorongan sebagai sastrawan. Dia tidak peduli kalau tulisannya mau dibaca orang atau tidak. Tapi dia menulis terus dan terus. Bagi saya tulisannya yang menyangkut sejarah dan tokoh saja yang saya perhatian. Dan ini sungguh berguna, karena sesungguhnya Sobron adalah pelaku dan saksi hidup pada masanya. Dia bercerita cukup objektif pada masa-masa sulit ditanah air sekitar tahun 1965, di Tiongkok, Belanda dan Paris pada tahun-tahun berikutnya. Yang juga menarik saya saat-saat pengalamannya ketika mulai berkecimpung didunia sastra. Tidak saya sangka sama sekali, rupanya 3 orang dari bidang sastra (yang kini semua sudah tiada) pernah bersahabat dan sering berjalan bersama. Mereka adalah Sobron, Ramadhan KH dan Nugroho Notosutanto. Sejumlah nama tokoh dan pengalamannya berhubungan dengan tokoh itu ditulisnya secara terbuka dan luwes. Misalnya Rosihan Anwar, Mukhtar Lubis, Pramudya Anantatur dan masih banyak lagi. Perhatiannya amat besar untuk menulis sesuatu tentang seseorang yang dikenalnya dengan baik saat orang itu meninggal dunia. Semoga demikian pula dalam berbagai group, website atau perorangan dalam dunia maya ini, ada banyak yang bersedia menulis tentang beliau hari-hari belakang ini, guna mengantar kepergiannya. Saya sendiri belum pernah bertemu muka, tapi kami pernah berhubungan lewat email. Saya masih ingat sekitar tahun 2005, saya menanyakan tentang pengetahuannya berkaitan dengan tokoh DN Aidit (kakak kandungnya) dalam periode 1945 - 1948. Semua di jawabnya dengan jujur dan baik. Dia juga berterima kasih atas kiriman saya foto-foto DN Aidit dalam periode itu. Selamat jalan Pak Sobron, tulisan anda selalu saya kenang.
Kamis, 08 Februari 2007
Dari dulu juga Jakarta sering banjir
Rabu, 07 Februari 2007
Pertemuan Drees-Sjahrir 1949

Oleh : H. ROSIHAN ANWAR
JANUARI 1949 terjadi hal-hal yang menunjukkan sulitnya perjuangan mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Pimpinan pemerintah Republik Indonesia berada dalam tahanan militer Belanda di Prapat dan di Bangka. Pada bulan itu pula PM Belanda Dr. Willem Drees berkunjung ke Jakarta. Tanggal 19 Desember 1948 Jenderal Spoor memimpin aksi militer kedua. Dalam waktu sekejap Yogya diduduki. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, Penasehat Presiden Sjahrir, Deputi Menteri Luar Negeri H. Agus Salim, Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Mr Assaat, Menteri Pendidikan Mr Ali Sastroamidjojo, Sekretaris Negara Mr Pringgodigdo, Komodor Udara Suryadarma ditawan dan dibuang ke Prapat di Sumatra Utara dan Pulau Bangka.
Wakil Mahkota Agung dan mantan PM Belanda Dr. Louis Beel berpendirian bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Tapi Dewan Keamanan PBB tidak berpendapat demikian. RI yang November 1946 berunding dengan Belanda di Linggajati dan diakui berkuasa de facto di Jawa dan Sumatra tidak hilang begitu saja. PM Belanda Drees melihat gengsi internasional para pemimpin republik yang ditahan oleh militer Belanda malahan meningkat. Dewan Keamanan menyerukan supaya Soekarno-Hatta dibebaskan dan dikembalikan ke Yogya, kemudian usaha penyelesaian konflik Indonesia-Belanda dilanjutkan di bawah supervisi Dewan Keamanan PBB. Dreees mengunjungi Jakarta buat kedua kalinya. Yang pertama kali tahun 1947, ketika dia bertemu dengan PM Sjahrir.
Petang hari, 18 Januari 1949 dalam hujan gerimis Sjahrir tiba di lapangan terbang Kemayoran Jakarta dari Medan. Sejak 19 Desember 1948 dia ditahan di sebuah rumah di Prapat bersama Soekarno dan H. Agus Salim, dan kemudian dibebaskan, balik ke Jakarta untuk bertemu dengan PM Drees pada malam itu juga. Di Kemayoran Sjahrir disambut oleh Dr P.J. Koets Direktur kabinet Gubernur Jenderal Belanda dan oleh sejumlah wartawan luar dan dalam negeri. Saya hadir sebagai Pemred Pedoman. Berjalan di samping anak angkatnya Lily (kelak Ny. Lily Sutantio) Sjahrir tidak memberikan keterangan kepada pers yang menunggu. No comment, kata eks PM Republik Indonesia (1945-47).Sebelum bertemu Drees di Istana, Sjahrir bicara dengan Prof. Dr. Supomo, anggota delegasi perundingan Republik. Dia memberikan jaminan kepada Supomo tidak akan memulai perundingan dengan Drees atau orang-orang federal (Anak Agung dkk.), sebelum para pemimpin RI yang ditahan telah dibebaskan, dan sebelum dipulihkan posisi mereka selaku Pemerintah RI. Ketika itu saya tidak punya informasi tentang isi pembicaraan Drees-Sjahrir. Tapi baru-baru ini Prof. Dr. Bambang Hidayat dari Observatorium Bosscha Lembang memberi saya buku Vier Jaar Nachtmerrie (Empat Tahun Mimpi Buruk), karangan Mans Daalder (2004). Di dalam buku itu terdapat isi pembicaraan Drees-Sjahrir. Terlebih dahulu Sjahrir menegaskan dia datang "sebagai perorangan di luar kalangan pemerintahan republik". Ia pernah sesaat berpikir untuk tidak lagi mengurus masalah Indonesia, akan tetapi akhirnya berpendapat bahwa masalah itu sekarang begitu penting hingga dia tidak bisa dan tidak boleh menjauhkan diri.Drees yang didampingi oleh Michiels Verduynen, Dubes Belanda di London, menegaskan, kepentingan yang mereka berikan terhadap perundingan antar-Indonesia (federal dengan republikein). Ia menjelaskan jadwal penyerahan kedaulatan yang telah disampaikan oleh Belanda kepada PBB. Sjahrir berkata "Tidak satu pun dari kedua pihak memperoleh keuntungan, apabila mereka tetap seratus persen tinggal berdiri berhadap-hadapan". Dia tidak ingin dalam pembicaraan ini menyalahkan salah satu dari kedua pihak. Akan tetapi dia tidak bersedia mengadakan kewajiban ikatan tanpa persetujuan dari kabinet Hatta yang republikein (hal. 306). Drees ingin bicara dengan Hatta. Pegawai tinggi A.W.C. Giabel pergi ke Bangka untuk mengatur pertemuan. Hatta menghargai kontak dengan Drees, tapi dia tidak pergi ke Jakarta, karena kunjungan Wapres RI ke ibukota Indonesia bisa ditafsirkan sebagai penyerahan diri . Kesan demikian harus dihindarkan, karena kartu RI di Dewan Keamanan PBB sedang dalam keadaan bagus. Giebel menawarkan kepada Hatta untuk terbang dengan pesawat militer ke Jakarta dan kembali dengan cara serupa ke Bangka. Hatta menolak, karena kunjungannya kepada Drees tidak dapat dirahasiakan. Hatta di jalanan akan segera dikenal orang di mana-mana. Tapi dia mau bertemu di mana saja, kecuali di Jakarta, Giebel masih berusaha mengatur pertemuan Singapura. Itu pun gagal. Drees balik ke Negeri Belanda tanggal 20 Januari 1949. Drees tidak berhasil dalam misinya ke Indonesia. Sjahrir tidak kembali ke Prapat. Soekarno tidak senang. Sjahrir dianggap "mengkhianati perjuangan". Suasana di Prapat sudah agak lama tidak baik. Sjahrir mengecam Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada pengawal Belanda. Sjahrir menyuruh Soekarno tutup mulut. Soekarno lagi di kamar mandi bernyanyi-nyanyi lagu "One day we were young....." Soekarno jengkel karena pada hematnya ketiadaan respek Sjahrir terhadap presiden. Begitulah ceritanya dari bulan Januari tahun 1949.***
Penulis, wartawan senior Indonesia
Jumat, 02 Februari 2007
Mbah Paikem istri Opa de Graaf


Dua foto kenangan ini dikirim oleh seorang wanita Indo bernama Constance Kramer untuk semuah majalah elektronik Indo di Belanda. Keterangannya hanya menyebutkan bahwa Wanita yang menggendong bayi pada foto 2 bernama Maria Paikem. Dia adalah wanita Jawa yang dikawin Lieuwe de Graaf (kanan). Mbah Paikem adalah nenek dari Constance yang saat itu masih kecil (tampak dia difoto ini sedang dipegang sang kakek). Mbah Paikem sekarang masih hidup dan berumur 92 tahun, sedangkan Opa de Graaf meninggal ketika berumur 72 tahun. Hubungan para keluarga Indo ini merupakan kenyataan dan muncul akibat keberadaan Kolonial Belanda di Indonesia. Dalam foto ke 1 tampak Ibu Paikem dimuka rumahnya di Belanda, bersama kucing dan anjing kesayangannya
Tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Jumat, 19 Januari 2007
Peristiwa Westerling 60 th yang lalu
Dalam rangka memperingati 60 tahun peristiwa Westerling di Sulawesi Selatan (Desember 1946-Januari 1947) VPRO sebuah stasiun TV Belanda menyajikan acara "Andre Tijden" dengan judul "Celebes". Program TV yang dibagi dua ini yaitu Deel 1, tanggal 11 Januari 2007 dan Deel 2 tanggal 18 Januari 2007, pada dasarnya tayangan dokumenter menurut versi Belanda tentang peristiwa pembantaian Sulawesi selatan oleh Kapten Raymond Weasterlin. 3 orang anggota Speciale Troepen masing, masing H.van Groenendal, van Haalen dan J van Goetem, secara bergantian diwawancarai. 2 orang pelaku yaitu Westerling sendiri dan pembantu letnan Vermeulen yang sudah almarhum, penjelasannya diambil dari rekaman lama. Sepintas ada hal-hal baru yang secara berani diungkapkan VPRO, yaitu tindakan kekejaman pihak Depot Speciale Troepen DST) dibeberapa desa dibuktikan menembak mati penduduk seenaknya dengan alasan Rampok dan Bandit serta extrimist. Beberapa kali Westerling muncul, misalnya ketika masih cukup muda dengan kepala lengkap berambut, sudah tua dan botak dan yang mungkin belum banyak orang tahu, dia juga punya kemampuan menyanyi untuk keperluan opera. Suaranya tinggi dan sedikit bariton. Saat menyanyi, dalam film hitam putih, tidak seperti biasa dia tidak berkumis dan tidak berjenggot. Acara TV ini bisa di Download, kalau memungkinkan. Gambar atas pasukan DST dan Kapten Westerling di Sul.Sel.
Rabu, 10 Januari 2007
Tan Malaka dizholimi bangsanya sendiri ?
Dalam bukunya “dari penjara ke penjara”, Tan bercerita tentang penderitaannya berkelana dari penjara ke penjara. Untuk pertama kali dirinya ditangkap di Madiun atas perintah Amir Syarifudin Menteri pertahanan RI. Ini terjadi pada tanggal 17 Maret 1946. Dia dibawa ke Tawang Mangu dan disana diberlakukan sebagai tahanan rumah selama 3 bulan lebih. Bersamanya adalah Abikusno Tjokrosuyoso, Soekarni dan Mohammad Yamin. Saat terjadi peristiwa penculikan Perdana Menteri Syahrir pada tanggal 27 Juni 1946 maupun peristiwa 3 Juli 1946, Tan Malaka Cs berada di Tawang Mangu. Dan menurut pengakuannya dia tidak ada sangkut pautnya pada kedua peristiwa tersebut yang terkait pada nama-nama seperti Jenderal Mayor Soedarsono, Mr Budyarto, Mayor AK jusuf, Iwa Kusumasumantri, Mr Ahmad Soebardjo dan Dr Buntaran. Hubungannya Cuma sebatas sesama anggota Persatuan Perjuangan saja dengan mereka. Persatuan Perjuangan (PP) adalah kelompok politik yang tidak sudi menerima perundingan Indonesia-Belanda yang merugikan Republik Indonesia. Persatuan perjuangan memiliki dasar perjuangan yaitu yang namanya "Minimum Program". Tapi Pemerintahan sayap kiri, tetap saja melakukan perjuangan diplomasi yang amat merugikan itu. Kalau dalam Linggajati (1947), Republik tinggal hanya terdiri dari Jawa, Madura dan Sumatra, maka dalam Renville (1948) lebih parah lagi. RI hanya sebagian kecil Jawa dan sebagian Sumatera. Untuk inilah PP berjuang agar RI tidak lebih terpuruk lagi, padahal Belanda sudah berhasil memunculkan negara Federal seperti halnya Negara Indonesia Timur. PP berjuang dibidang politik untuk memprotes kebijaksanaan Pemerintah itu. Maka Pemerintah menjadi mersa dihalang-halangi PP. Tidak ayal lagi, Pemerintah merasa terganggu. Merasa bahwa gerakan melawan Pemerintah ini didalangi Tan Malaka, Pemerintah sayap kiri yang awalnya dipimpin Sjahrir kemudian Amir Sjarifudin, segera membuat pernyataan bahwa peristiwa 3 Juli yang tujuannya untuk merobohkan Pemerintah adalah sebuah gerakan yang dipimpin Tan Malaka. Pada tanggal 6 Juli 1946, Tan Cs dibawa dari tahanan rumah Tawang Mangu menuju banyak tempat. Mulai dari Solo, Yogyakarta, Mojokerto, Magelang, Ponorogo dan Madiun. Sidang perkara tuduhan makar pada komplotan ini, baru berlangsung pada bulan Februari 1948. Dan atas grasi Presiden, pada tanggal 17 Agustus 1948, semua tahanan di bebaskan. Tan Malaka sendiri baru dibebaskan pada tanggal 16 September 1948 dari Penjara di Magelang. Tidak banyak yang terungkap peristiwa demi peristiwa yang terjadi atas dirinya sesudah tahun 1948. Kecuali nanti pada bulan Juli tahun 1949, muncul berita disurat khabar nasional maupun internasional bahwa Tan Malaka telah dieksekusi. Misalnya pada berita Majalah Times tertanggal 4 Juli 1949 muncul tulisan : "The Republicans dressed up their account of Tan's execution with details. Tan, they said, was executed by a firing squad April 9, near Blitar, in East Java. The Republicans also reported that they had executed three other Communist chieftains: former Premier Amir Sjarifoedin, R. M. Suripino, a former Republican diplomat, and a Communist Party secretary named Hadjono". Kekuasaan apakah yang telah mengadilinya dan menghukum matinya itu ?. Kalau dilihat saat itu Pemerintah RI belum kembali ke Yogya. Dan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera yang berpusat di Bidar Alam, apa mungkin mampu melakukan Mahkamah Peradilan Luar Biasa bagi seorang pejuang setingkat Tan Malaka ?. Kalau saja Soekarno yang sedang di buang di bangka sampai Juli 1949, sudah kembali berkuasa, tentu eksekusi ditepi Kali Brantas tersebut tidak akan terjadi. Dia pasti membela orang yang dianggap gurunya tersebut. Sutan Malaka jasadnya tidak pernah dihargai sepantasnya dan tanpa kuburan.
(Foto atas, Tan Malaka kiri dan 2 orang sahabatnya, Soekarni dan Nyonya Mangunsarkoro.








